All Things Must Pass

Jumat, Januari 05, 2018



Adalah album legendaris milik George Harrison, salah satu personil The Beatles yang mendapatkan pencerahan di ambang bubarnya The Beatles. Album ini dirilis di tahun 1970 dan menelurkan beberapa hits kece sepanjang masa seperti What is LifeMy Sweet Lord, All Things Must Pass, dan Isn’t It Pity. Saya pribadi menyukai keseluruhan album ini dan judulnya yang sangat kontemplatif. Album ini bukti bahwa spritualitas dan budaya pop bisa berpadu harmonis. 

Segala sesuatu harus berlalu. Kalimat sederhana yang menyuguhkan kedalaman makna. Apa yang harus berlalu? Kebahagiaan? Penderitaan? Natal yang didamba dan kemudian berlalu sekejap mata? Tahun 2017 berlalu dan 2018 menggantinya dengan tergesa-gesa? Saya kaget bahwa saya bangun pagi dengan penanggalan di angka 4. Tiba-tiba saja, semua drama yang terjadi di tahun 2017, rasa senang, bahagia, duka, kemarahan, kekecewaan, dan derita berlalu begitu saja seperti dalam hentakan kaki atau petikan jari. Just like that, all things must pass. 

Roda-roda pesawat melaju perlahan. Pesawat itu membawa dua orang perempuan yang ingin pulang ke rumah. June dan saya duduk bersisian di dalam pesawat itu. 

“Kamu pulang untuk bersiap dan saya pulang untuk memulai,” June berkata lirih padaku. 

Segala sesuatu yang akan datang menjadi petualangan baru yang harus dijalani. Ini adalah tahun penantian sekaligus tahun pemantapan. Semoga kita diberi kesabaran, ketekunanan, kewaspadaan, dan khidmat untuk melaluinya. Semoga iman kita menjadi pijakan yang kuat untuk mengatasi segala takut, ragu, dan khawatir. June menangis lirih bersamaan dengan melajunya pesawat yang meninggalkan landasan lapangan terbang. Ia berpamitan dengan Yogyakarta sekali lagi. Kita tidak pernah tahu kejutan yang menanti, misteri yang akan dihadapi, sekaligus kebahagian dan penderitaan yang mengelilinginya. Sebab segala sesuatu telah tersedia. 

 Semoga Tuhan menguatkan langkah juang kita.

You Might Also Like

0 comments