Berkorban

Minggu, Agustus 17, 2014

Seharusnya saya sudah ada di Jogja sekarang. Berbaring-guling kesana-kemari di atas tempat tidur yang ukurannya tidak sebesar tempat tidur saya di rumah. Saya bahkan punya rencana nonton konser Gending Djaduk Ferianto di Taman Budaya malam ini. Tiket konser sudah direservasi dan saya berhasil membujuk Mbak Truly untuk menemani padahal biasanya ia sudah di Solo setiap weekend. Tapi, sepandai-pandainya manusia menyusun rencana, Tuhan tetaplah sebagai penentu. Selalu saja ada sesuatu yang menghalangi saya untuk mentransfer uang tiket konser tersebut. Tiket pesawat juga lagi mahal-mahalnya namun sialnya tetap laku sampai saya tidak kebagian. Saya kemudian dihadapkan pada pilihan-pilihan yang diharapkan sebagai keputusan yang bijaksana. Saya mengartikannya sebagai tindakan mengorbankan kesenangan pribadi diatas pertimbangan-pertimbangan logis.

Tapi kemudian saya menyadari sesuatu bahwa berkorban ternyata bukan perkara mudah. Bukan persoalan, aku akan berkorban bagimu dan bummm.... pengorbanan terlaksana dengan hati gembira. Berkorban adalah upaya penyangkalan diri. Penyangkalan diri berhubungan dengan eksistensi kemanusiaan kita, keinginan, atau kebutuhan. Luka manusia adalah ketika eksistensinya diabaikan. Ketika ia bukanlah menjadi "somebody" dalam lingkungannya. Ketika ia adalah tokoh utama tanpa spotlight dalam pentas drama. Penyangkalan diri adalah usaha membunuh "aku" demi "dia" atau "mereka". Kita memberikan secara sukarela apa yang kita miliki pada orang lain. Dan ini bukan saja termasuk memberikan hal-hal yang bersifat materi tapi juga kesenangan dan keinginan. Itu tidak mudah, percayalah. Manusia selalu ingin menjadi pusat perhatian: aku, aku, aku. Maka, menyangkal diri adalah menjadi tiada. Dari ada menjadi tiada, kotak menjadi bundar. Proses menuju ketiadaan itu yang menyiksa.

Namun, pada akhirnya saya berhasil memilih keputusan yang bijaksana. Mom dan Dad melihatnya seperti pembina Pramuka yang melihat kesuksesan anak didiknya mendirikan tenda perkemahan. Selama kita hidup, kita tidak lepas dari yang namanya ujian. Kita tidak tahu kapan kita akan diuji dengan hal-hal yang kadang tidak kita mengerti. Maka, sebaiknya kita bersiap-siap. Setidaknya untuk menyiapkan hati untuk peka. Ayub bilang kita adalah emas yang diuji oleh tangan Tuhan. Tidak terbayangkan bagaimana proses pemurnian emas dilakukan. Mungkin si Emas sudah berteriak-teriak minta ampun. Tapi, manusia memang harus dimurnikan dengan api pencobaan. Dengan demikian ia menjadi berharga di mata Tuhan. 

Ah, saya mungkin terlalu lebay. Ini bukanlah ujian berat. Ini hanyalah satu soal yang berhasil saya kerjakan. 



sambil dengar Blue Moon-nya Rod Stewart di hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69, meski pun blue moon yang sebenarnya sudah lewat beberapa hari yang lalu. 





You Might Also Like

2 comments

  1. Nice share Me
    Karena pengorbanan para pahlawan, kita merdeka. Berkorban itu untuk memerdekakan. Mengorbankan keinginan diri, bisa jadi memerdekakan diri dari keterikatan...
    Merdeka!

    BalasHapus
  2. Akan saya catat dalam hati, Mbak : "Berkorban untuk memerdekan diri dari keterikatan." :))

    BalasHapus