Papua, Surga Kecil Jatuh Ke Bumi

Senin, Juli 14, 2014

salam damai dari Danau Sentani


Stereotip memang racun. Dilekatkan semena-mena pada suatu tempat atau seseorang karena orang yang melekatkan stereotip itu belum pernah kesana atau mengenalnya sepenuh hati.  

Saya sedang membaca novel berjudul Athena, hadiah ulang tahun dari Kakak Emma, diatas pesawat yang akan membawa saya menuju kota Jayapura, Papua. Ini benar-benar tidak kongruen sama sekali. Tapi disaat-saat seperti ini, apapun akan kau lakukan untuk membunuh waktu. Bukan main waktu yang diperlukan dari Jogja yang letaknya di jantung pulau Jawa menuju ujung timur Papua. Setelah transit di Jakarta, pesawat tersebut lalu membawa kami selama 5 jam non-stop menuju bumi Cendrawasih. 

Sebelum berangkat, saya meminum doxycyline, obat antibiotik yang bisa juga buat anti malaria berdasarkan resepnya Elsye, dokter umum lulusan UGM yang berdarah Ambon-Toraja dan besar di Papua. Maka kuserahkan urusan kesehatanku pada Elsye karena dia sudah terpercaya dan berpengalaman. "Sekali kena malaria, tidak akan pernah sembuh. Ia akan muncul sekali-kali waktu tanpa diduga," begitu katanya. Saya merinding ngeri. Kok kayak rindu ya? 

****

Jam 5 subuh, matahari sudah muncul menyinari timur Indonesia. Untung pesawatnya menurunkan ketinggiannya sehingga saya bisa melihat hamparan permadani hijau yang membentang di tanah Papua. Saya tiba pukul setengah 6  dengan cuaca yang mulai terik. 

Pikiran pertama yang muncul adalah cerita-cerita tentang orang Papua yang memiliki "bau khas" yang tidak biasa terhirup dengan hidungmu. Tapi jangan sekali-kali kau mencoba menutup hidung di depan mereka. Itu tidak sopan dan mereka akan tersinggung. Selain bau khas, terdapat banyak bekas ludahan sirih-pinang di jalan-jalan seputar bandara atau pasar. Sepanjang perjalanan, saya mencoba untuk tidak menutup hidung karena itu pertanda tidak sopan. Tapi, tunggu dulu. Tak ada satupun bau khas yang saya cium. Semuanya terasa wajar dan biasa saja. Stereotip pertama terpatahkan. Mungkin juga karena beda medan. Tapi saya tetap bersyukur bahwa soal bau khas itu tidak menjangkau semua orang.

Saya menuju pengambilan bagasi, dan menemukan bahwa bandara lumayan bersih. Aman. Tapi kemudian saya shock ketika melihat halaman bandara dan terasnya. Banyak sekali bekas ludahan sirih-pinang dimana-mana. Agak jijik juga, mungkin karena tidak terbiasa. Stereotip kedua terbukti kebenarannya. Tapi ada makna lain. Sirih-pinang, gula-gula adat itu adalah sebuah tradisi, kebiasaan. Bahkan itulah yang disuguhkan pertama kali sebelum air susu ibu memberi kehidupan bagi bayi-bayi. Jadi bagaiman caranya bisa menghentikan tradisi turun-temurun seperti itu?

***

Seperti orang awam, stereotip itu melekat karena kita tidak pernah ke suatu tempat dan tidak mengenal orang yang dilekatkan stereotip itu. Sebelum menginjakkan kaki ke Papua, pikiran saya dipenuhi hal-hal negatif tentang orang Papua. Bukan saja karena mereka  berbeda secara ras dan kultural, tapi juga pandangan kita yang tidak bisa memandang "perbedaan" itu sebagai hal yang unik dan harta yang hakiki. Umumnya, masyarakat kita memandang perbedaan sebagai hal yang mengganggu sehingga kita cenderung menghina orang yang berbeda dengan kita. Tapi apakah perbedaan itu?

Saya akan membagi cerita-cerita perjalanan saya ke tanah Papua dalam beberapa seri. Setelah menginjakkan kaki disana, pandangan saya terhadap tanah Papua dan orang Papua berubah 180 derajat. Saya jatuh cinta pada tanah ini, seperti Otto dan Geisler, misionaris Jerman yang pertama kali tiba di tanah Papua dan berseru, "Terberkatilah tanah ini..."

Sebuah lagu yang dinyanyikan Edo Kondologit mengalun perlahan, memberikan makna dalam dan membuat saya tak henti-hentinya menitikkan air mata. Saya tidak tahu juga mengapa saya menangis. Gunung-gunung tinggi di Sentani menjadi saksi bisu, seorang lagi manusia Indonesia datang ke tanah ini. Ketika akhirnya mata saya melihat secara langsung danau Sentani, maka tahulah saya sebab musabab mengapa saya menangis. Karya Ilahi, buatan Tuhan dalam bentuk alam dan jiwa-jiwa yang tinggal disana. Sumber daya alam yang begitu kaya bahkan kaki saya menari-nari diatas emas yang cuma beberapa meter jauhnya di bawah sana. 

"Tanah Papua, tanah yang kaya, 
Surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah, sebanyak madu
adalah harta harapan...."


You Might Also Like

3 comments

  1. suka tulisan iniiii... not just because my name is there :D

    pacarnya Ronan Keating

    BalasHapus
  2. hahhahaa.....berikutnya lagi akan ada kak...tenang saja :D

    BalasHapus
  3. mau sekali ke Papua !!!.. awalnya saya terpengaruh stereotip2 itu..tapi setelah sy lihat tmn2ku yg pernah tinggal di Papua mereka senang sekali dan bangga jadi warga Papua.. makanya sy penasaran sekali mau ke surga kecil itu... aminn...

    BalasHapus