Rumah Eyang

Sabtu, Desember 07, 2013

*rumah eyang*

Bagi saya rumah adalah jodoh. Rasanya seperti ketika bertemu dengan belahan hati yang terpisah jauh. Bagai menemukan ukuran sepatu yang pas, seperti menemukan kenyamanan dalam sebuah bra dan celana dalam. Rumah adalah tempat dimana kita merasa nyaman dan aman. Tempat dimana kita berlindung di bawah atapnya, tempat dimana kita tidak perlu merasa takut pada apapun. Menemukan rumah juga seperti menemukan tambatan hati. Ada sebuah proses yang harus dilalui, ada sebuah perjalanan yang harus ditempuh. Pada akhirnya, rumah pun adalah tempat dimana kita akan pulang setelah berkelana. Sejauh apapun kita pergi kita akan kembali ke rumah.

Sewaktu memutuskan kuliah di Yogyakarta, saya pun juga diliputi kegalauan dimana nanti saya akan tinggal. Saya tidak punya saudara dekat disini, tottaly alone. Seperti biasa saya akan curhat pada-Nya. Sempat down karena sepertinya tak ada horizon of expectation yang bisa dilihat. Benar-benar buram. Beberapa waktu kemudian saya bertemu dengan Kak Phio. Beliau adalah senior saya di KOSMIK. Perjalanan saya cukup unik untuk berjumpa dengan Kak Phio. Tapi saya yakin, Tuhan-lah yang menuntun kami untuk saling bertemu. Dial-lah orang yang kemudian dipakai Tuhan untuk membawa saya ke rumah ini, rumah Eyang.

It was love at the first sight, saat pertama kali melihat rumah bergaya joglo, minimalis, tapi ada unsur baratnya ini. Rumah ini benar-benar mencerminkan sang pemilik rumah, Prof. Soepomo Poedjosoedarmo, seorang professor bidang Linguistik yang juga banyak disebut sebagai Bapak Sosiolinguistik di Indonesia. Beliau adalah pelopor pendekatan kontekstual dalam kajian bahasa di Indonesia, orang pertama dari Wonosari yang mendapatkan pendidikan ala Barat di Cornell University bersama kolega sekaligus kawannya, Umar Kayam. Dan yap, saya tinggal seatap, -sebelah kamar- malah dengan orang hebat ini.

Seperti dijodohkan, awalnya Kak Phio mati-matian mempromosikan tempat kos-nya ini pada saya. Tapi saya belum sreg. Apalagi karena alamatnya masuk gang (harap dicatat konteks gang di Yogyakarta sangat berbeda dengan konteks gang di Makassar).  Kak Phio menyarankan saya menggantikan kamar yang ia tempati setelah ia selesai menyelesaikan studinya di UGM. Kini saya tahu mengapa saya harus ke Yogya sewaktu berkas saya dulu dikatakan belum diterima di prodi. Salah satunya ternyata saya harus bertemu dengan “jodoh” saya ini. Kak Phio lalu mengajak saya dan Mami untuk melihat rumah ini dan disitulah kontak itu terjadi. I’m in love with him.

Rumah ini benar-benar besar, mungkin sekitar 1000 meter. Halamannya luas, dengan bangunan ala Joglo sebagai rumah utama, taman di dalam rumah, rumah tinggal, dan kamar-kamar di sekelilingnya. Didominasi kayu dan berlantai ubin, rumah ini benar-benar vintage. Kita bisa melihat dan merasakan atmosfir kolaborasi tradisional (jawa) dan barat jika tinggal disini. Menurut cerita Eyang, tanah ini dibeli saat ia pulang dari Amerika di tahun 70-an seharga 1000 dollar AS pada masa itu (silahkan konversi dalam rupiah saat ini) kemudian perlahan-lahan dibangun. Eyang memang jarang menempati rumah ini karena lama tinggal di luar negeri (Eyang pernah mengajar di beberapa Universitas di Amerika, Jerman, dan Brunei).

Keluarga Eyang sebagian besar tinggal di Amerika, sehingga anak-anaknya menyarankan agar rumah segede ini dijadian tempat kos untuk putri. Di rumah ini selain Eyang, ada Mba Par dan suaminya Pak Jono yang menjadi asisten rumah tangga Eyang. Hubungan kami dengan Eyang laksana ayah dan anak. Memang tidak semua anak-anak kos disini dapat berinteraksi seakrab itu satu sama lain, namun disini saya malah menemukan banyak hal. Saya menemukan kakek yang tidak pernah saya miliki sekaligus seorang mahaguru yang padanya tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan saja namun juga kehidupan itu sendiri. Saya menemukan kakak-kakak perempuan disini yang saya panggil Mbak Truly (she’s 26, smart, and  a lecturer in Sanata Dharma University) dan Mbak Indri (calon warga negara Amerika karena lagi ngambil master bidang American Studies dan pemuja Tom Hiddleston).
Merekalah keluarga saya di Yogya dan oleh karena itulah saya betah disini. 

Eyang pernah mengatakan pada saya bahwa saya sangat terlihat senang tinggal di Yogya. Mungkin begitulah spirit seorang yang jatuh cinta. Ketika segala tugas dan persoalan kampus terasa menyesakkan saya hanya tinggal duduk di teras-di kursi goyang kayu punya Eyang- sambil melihat keindahan taman yang rajin dirawat Pak Jono. Kalau saya lelah, saya tinggal tidur di atas tempat tidur yang berada di bawah jendela besar di kamar. Jika hujan turun suasananya membuat gloomy sekaligus romantis. Kak Dwi yang pernah berkunjung kesini sempat berkelakar, “dengan tinggal disini, harus bisa jadi satu novel, Mei.”

Hari ini Eyang berulang tahun yang ke-80 tahun. Di usianya yang semakin senja, beliau masih tetap mengabdikan dirinya bagi ilmu pengetahuan. Masih banyak yang membutuhkan beliau bukan saja untuk menjelajahi bahasa tapi hidup itu sendiri.

Selamat ulang tahun Eyang, semoga selalu sehat dan terus berkarya. Tuhan memberkati.


Yogyakarta, 6 Desember 2013

You Might Also Like

6 comments

  1. Waah sukaku foto rumah bagian depan rumahnya Eyang.. Foto2in semua sisi dong, Mei.. Anggap saja ini kado Natal untukku hehehe..

    BalasHapus
  2. Kak Boen: siappp kak.. Nanti saya posting disini

    Kak Dweedy : bangett kak... Nanti kalau kesini saya ajak jalan2 ke rumah banyak buku menarik hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu ia mau sekali ka ke Jogja >.<

      Hapus
  3. setuju dengan kak dwi, sy pernah singgah merasakan atmosfirnya, kutantangki novel hasil dari rumah ini jangan biarkan orang lain menjadi pembeli pertamanya selain saya ^_^

    BalasHapus