Monolog

Sabtu, Desember 21, 2013

*weheartit*



Wajahnya berseri-seri. 

Ia tersenyum jenaka sambil melontarkan lelucon yang membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa. Ia bertingkah konyol demi menghibur mereka yang diam-diam tengah bergumul. Tak ada yang tahu bahwa dibalik wajahnya yang memantulkan cahaya matahari itu, dibalik tingkahnya yang konyol, dan dibalik banyolannya yang lucu sampai garing, sesungguhnya ia menyembunyikan gemuruh di dadanya. Ia menyimpan banyak kemarahan. Sangat.

Ia adalah badut yang gagal. Membuat orang tertawa bukanlah kegemarannya. Bertingkah jenaka bukanlah pembawaannya. Dahulu ketika ia belum mengenal kejamnya hidup, ia adalah perempuan yang dingin. Airmata jarang membasahi pipinya dan ia tak punya rasa kasihan. Ia tak peka lagi perasa. Ia hanya melihat dirinya sendiri. Ia adalah matahari, yang menjadi pusat tata surya dimana planet-planet setia mengitarinya. Tapi itu dulu, sebelum gerhana tiba dan menggelapkan segalanya.

Akhir-akhir ini ia senang mendengarkan lagu-lagu ciptaan Freddie Mercury. Ia senang karena Mercury memiliki kesamaan dengannya, banyak menyimpan kemarahan. Ia marah pada dirinya, marah pada orang-orang yang disayanginya, marah pada sistem, marah pada lingkungan, dan marah pada takdir yang mengombang-ambingkannya kesana-kemari. Ia sadar, ia tak punya hak untuk marah pada Semesta, pada Dia yang menempatkannya dibawah sana. Bahwa memang sudah tugasnya untuk memuji-muji namanya, bernyanyi siang-malam seperti Serafim dan Kerubim untuk selama-lamanya, dan ia tak ingin dihardik seperti Ayub karena komplain dengan semua ini. Tapi ia manusia dan marah adalah bagian dari dirinya meskipun upayanya untuk menjadi anak baik dilakukannya sepenuh hati, ia tetap ditolak. Berulang-ulang sampai ia menengadahkan kepalanya ke langit dan berseru, "Apa mau-Mu?"

Ia pun teringat pada Srikandi, yang berperang karena cinta. Tak ada yang sia-sia dan tak ada yang benar-benar hilang. Mungkin benar, seperti yang dikatakan para pengkhotbah dari masa ke masa,"Jika orang itu tidak berubah maka orang itu yang dipakai untuk mengubah kita". Mungkin ia harus diubah dulu, dibentuk dulu. Segala persegi dalam hatinya harus dibentuk menjadi bulat, bundar seperti bola yang dimainkan dengan sukarela oleh anak-anak kecil di tanah lapang. Mungkin airmatanya harus diperas banyak-banyak, supaya kelak akan menjadi mutiara seperti yang dialami kerang-kerang di laut. Mungkin dengan begitu ia akan menemukan kebahagiaannya, apa yang dicarinya selama ini. Bahwa merasa penuh, merasa komplit, merasa utuh adalah sebuah perjalanan yang berakhir ketika telah sampai pada kesudahannya. 




diluar masih turun hujan merintih dalam sunyi, sehari sebelum Hari Ibu dan 4 hari menuju Natal. 

You Might Also Like

0 comments