Selamat Jalan, Nak....

Senin, November 05, 2012



Kematian seperti halnya hari pernikahan dan kelahiran akan selalu menjadi misteri bagi kehidupan manusia. Setiap misteri memiliki waktunya sendiri untuk menyingkapkan dirinya. Hari ini bisa menjadi waktumu atau waktu orang lain. Kematian adalah pertanda bahwa manusia bukanlah apa-apa. Manusia tidak boleh sombong, karena segala yang ia miliki adalah titipan dan keberadaannya pun hanya menumpang di dunia ini.

Giorenza, keponakanku yang paling kecil hari ini terakhir melihat dunia. Tuhan yang memberi dan Tuhan pula yang mengambil. Kasih Tuhan melebihi kami sebagai orang tuanya. Umurnya bahkan belum 2 tahun. Sebagai orang percaya, kami mengimani bahwa Tuhan punya rencana melalui peristiwa ini. Gio, keponakanku tersayang pasti sudah bahagia bersama Tuhan di surga.

Kepulangan saya ke Ambon kemarin adalah perjumpaan saya yang pertama dan terakhir kali dengannya. Ada satu momen istimewa yang tidak bisa saya lupakan bersamanya. Saya dan Mami secara bergantian berdansa dengan Gio. Ia memberi kejutan bagi kami semua. Ia sangat gembira sekali malam itu. Gio memiliki mata yang indah. Seandainya ia hidup lebih lama, ia akan tumbuh menjadi pemuda yang akan membuat banyak perempuan bertekut lutut. Ia adalah lelaki kedua setelah Opa Nus yang berdansa dengan saya.

"Ke...Ke...," begitulah Gio memanggil saya sambil tersenyum lebar dengan tatapan yang dalam.

Selamat Jalan, Nak....
Kau akan selalu hidup dalam kenangan kami.

You Might Also Like

0 comments