Life Story

Kemelekatan

Kamis, April 30, 2015

Saya senang membayangkan terbangun dan berada di masa depan. Mungkin dua atau tiga tahun ke depan. Saya ingin apa yang saya alami dan rasakan sekarang berlalu. Saya ingin mendapatkan apa yang saya inginkan tanpa perlu menangis dan berputus asa dahulu.  Kalaupun dua atau tiga tahun itu ketinggian, baiklah lima bulan ke depan saja. Biarkanlah saya menutup mata, menghirup udara, menghembuskannya, dan merasa telah tiba lima bulan kemudian. Meski diam-diam saya sedih, bahwa saya tidak kemana-mana dan U2 mengejek dalam pikiran, "...you've got stuck in a moment and now you can't get out of it." 

Menjengkelkan memang mengetahui bahwa manusia itu historis, senantiasa menyejarah. Bahwa keberadaan mereka terjadi karena proses-proses yang tidak instan. Kita dikurung oleh ruang dan waktu. Kita tidak bisa mengubah masa lalu dan tidak bisa mengintip masa depan. Kita hanya berjalan maju dan tidak bisa berjalan mundur. Yang kau miliki adalah apa yang kau miliki saat ini. Karena sesuatu yang kau miliki saat ini belum tentu kau miliki di masa depan. Orang yang berada di sampingmu sekarang, belum tentu ada di hari esok. Ngeri bukan? Bahwa sesungguhnya kita sendirian. Tapi kita tidak mau mengakui bahwa kita sendiri apalagi sendirian. Mungkin karena sendiri itu identik dengan kesepian dan terkadang kita benci merasa sepi. 

Orang bijak berkata bahwa semua akhir adalah indah, jika itu tidak berakhir indah maka itu bukanlah akhir. Tetapi apa definisi "happy ending" itu jika setiap orang memiliki takarannya masing-masing tentang akhir yang bahagia. Dan akhir yang bahagia juga berhubungan dengan kematian yang menyenangkan, bukan yang tragis atau menyedihkan. Saya jadi teringat judul buku yang dikarang Ajahn Brahm berjudul Hidup Senang Mati Tenang dengan gambar cover smiley dengan warna kuning sunshine. Mungkin saya skeptis terhadap judulnya, meskipun saya juga membaca karya Ajahn yang lain. Sepertinya saya memiliki buku itu tapi belum membacanya atau saya memang belum pernah membelinya. 

Kau harus bertemu Ajahn Brahm secara langsung. Dia adalah satu-satunya penulis yang pernah saya jumpai dengan wajah yang selalu tersenyum. Ia sungguh terlihat dua puluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Bertemu dengannya seperti membuatmu tidak memikirkan kata "sepi" dalam kamus kehidupan. Dia selibat, dia tidak makan daging, dia juga bekerja, dia tidak memiliki harta duniawi, dia tidak terikat, dan dia bahagia. Dia bukan lulusan dari universitas bergengsi dunia tetapi wajahnya lebih berseri-seri daripada ilmuwan-ilmuwan yang fotonya muncul di wikipedia. Disitulah saya menemukan titik terang. Saya melihat salah satu ajaran Buddhisme mengenai ketidakterikatan. Ya, tidak melekatkan diri pada sesuatu adalah kunci kebahagiaan. 

Teologi Kristen mengenalnya dengan dua dikotomi yaitu keinginan roh dan keinginan daging. Seorang Yesuit bernama Anthony De Mello menulis buku berjudul The Way To Love yang berinti pada melepaskan kemelekatan. Melepaskan diri pada hal-hal yang materil maupun imateril membuat manusia menjadi merdeka. Kita tidak perlu lagi menghadapi penderitaan hanya karena tidak memiliki sesuatu. Kedua agama ini memang sama masochist-nya, bagaimana bisa manusia tidak mengikatkan diri sementara dirinya memang terikat. Aristoteles dan zoon politicon-nya sudah jelas menjustifikasi. Kalau mau hidup tanpa kemelekatan maka kau harus rela hidup di luar masyarakat. Siapa orang waras yang sanggup hidup di luar masyarakat? Bukankah jadinya melepaskan diri dari kemelekatan sama menderitanya dengan melekatkan diri pada sesuatu? 

Saya ingin belajar hidup tanpa melekatkan diri pada sesuatu. Saya ingin belajar hidup dalam kesadaran saya sendiri. Saya ingin belajar tidak melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Saya ingin belajar menerima bahwa masing-masing ada bagiannya dan membedakan apa yang bisa diubah dan apa yang tidak. Pada akhirnya, harapan membuat kita tetap waras sekaligus tetap hidup. Klise sih. Tapi mujarab. Kata seorang Romo, orang yang tidak memiliki harapan sama seperti orang yang mati selagi hidup. Tapi harapan harus hidup selaras dengan kerendahan hati. Rendah hati menguatkan kita menerima apa yang tidak bisa kita ubah dan berani menjalani kehidupan meskipun tidak sesuai seperti yang kita inginkan. Lagi-lagi klise. Tapi inilah kehidupan dan manusia. Lagipula, saya sudah mengantuk dan semakin ngawur.

Selamat Pagi. 

Life Story

Brad and Jen

Selasa, April 14, 2015

Brad Pitt dan Jennifer Aniston ketika menikah *foto:google




Apa yang menyedihkan dari kenangan? Bahwa ada yang berubah dan semuanya tidak seperti dulu lagi. 

Saya surprise ketika menonton salah satu episode Friends yang menampilkan Brad Pitt sebagai bintang tamunya. Ketika episode itu dibuat, Brad dan Jen masih bersama, mereka mungkin sudah menikah (ataukah masih pacaran?). Di episode itu, Brad berperan sebagai Will, teman SMA Rachel (Jen), Ross, dan Monica yang dulu di-bully Rachel-yang waktu itu cewek populer di sekolah- karena tubuhnya yang overweight. Will jadi dendam dan benci pada Rachel sampai ketika mereka dewasa. Dalam cerita itu, ditampilkan Will yang sudah langsing karena diet dan sangat tampan berhasil membuat Rachel kepincut, sayang Will tetap masih kesal pada Rachel. Kalian tahu, sewaktu Monica membuka pintu apartemennya dan Will alias Brad muncul, seketika itu juga suara-suara backsound penonton berteriak girang menjadi dua kali lebih riuh dari biasanya (selain Brad, backsound penonton  yang riuh seperti itu juga muncul ketika menyambut Bruce Wills). 



adegan di serial Friends *foto:google


Jujur saja, saya jadi sedih ketika menonton episode ini. Mereka dulu sangat saling mencintai. Dan kini, mereka sudah dengan pasangan masing-masing. Tapi, saya juga tidak mengharapkan Brad dan Jen- the golden couple- ini kembali bersama lagi. Jen sudah berbahagia dengan tunangannya, Justin. Sementara Brad dan Angie juga berbahagia dengan anak-anak mereka. Lagipula, kalau mereka kembali, semuanya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Mereka sudah menjadi puzzle-puzzle yang tidak saling merangkai gambar yang sama lagi.

Yah, saya memang tidak mengenal Brad dan Jen secara pribadi. Saya juga tidak tahu pasti alasan mereka bercerai. Saya malah senang-senang saja waktu Brad pacaran dengan Angie. Sewaktu mereka berpisah, saya tidak terlalu peduli dengan perasaan Jen. Waktu itu saya lagi suka-sukanya sama Angelina Jolie dan terpancing gosip tabloid milik Mami yang menulis bahwa Brad suka anak-anak sementara Jen tidak. Itulah sebabnya Brad memilih Angelina. Konon di Amerika, sampai ada team Jen dan team Angie yang sama-sama gilanya membela dua aktris cantik ini. Angelina memang terkesan lebih strong, seksi, cerdas, dan suka anak-anak daripada Jen. Sementara Jen, meskipun sangat mencintai Brad, tetapi sepertinya ia belum siap menjadi ibu. Bukan salahnya kalau ia belum siap dan bukan pula menjadi pembenaran untuk ditinggalkan oleh suaminya. Ada ketidakadilan disini. 

Namun setelah lebih besar dan mengalami pengalaman-pengalaman, saya jadi lebih bersimpati pada Jen. Bayangkan saja, kalau rumah tanggamu dirusak oleh perempuan yang kata orang lebih kece dari kamu. Padahal dahulu Brad dan Jen adalah pasangan yang serasi. Mereka pacaran lalu menikah dalam waktu yang cukup lama untuk ukuran pasangan selebriti. Brad kemudian meninggalkan Jen untuk bersama Angie yang waktu itu memang memiliki reputasi buruk: pernah incest, perebut suami orang, dan liar. Kini, orang mengenal dia sebagai aktris keren dengan bibir seksinya yang ikonik dan tentu saja sebagai duta PBB dengan misi suci. Belum lagi ia memiliki anak-anak angkat dari berbagai negara yang menunjukkan betapa pedulinya ia akan kemanusiaan. Tapi keadaan ini juga yang membuat saya sedikit tidak bersimpati pada PBB dan badan-badannya lagi. Terlalu politis dan memanfaatkan selebritis.

Percayalah, kalau kau menonton episode ini kau pun akan ikut menyayangkan berpisahnya Brad dan Jen. Lalu kau akan mulai sadar bahwa hal yang begitu indah sekalipun bisa hancur sama sekali. Bahwa tak ada yang tak retak, sekalipun itu terbuat dari gading gajah atau pasangan paling serasi di Hollywood. Tak ada yang abadi, termasuk cinta sepasang kekasih. 

Archolic

Archolic: Cinta, Pembunuh Jenuh, dan Hujan Sore-Sore

Kamis, April 02, 2015

foto: Meike


Saya sudah lupa persisnya kapan saya jatuh cinta pada arsitektur dan interior design meskipun saya juga tidak berniat menjadi arsitek dan designer. Pertama, saya tidak bisa menggambar. Kedua, saya tidak bisa matematika sehingga mengharapkan saya masuk jurusan teknik hampir sama mustahilnya melihat ikan hidup di darat. Ketiga, saya merasa lebih cocok menjadi "penikmat" daripada "pembuat". Keempat, memang tidak minat juga. Dengan demikian, jadilah saya archolic (bukan alkoholik ya!) sebutan dari gabungan kata "architecture" dan "holic" (i invented them hihiii..). Yup, sebutan bagi mereka yang menyukai arsitektur dan interior termasuk suasana dan atmosfir yang diciptakan tanpa berkecipung di dunia per-arsitekturan dan per-design interior-an. Well, menyukai lagu-lagunya Nirvana atau Pearl Jam tidak berarti menjadikan kita semua anak grunge, kan?

Sore itu saya berencana mencari bahan untuk menyusun bab 2. Perpustakaan memang tempat yang menyenangkan, tapi thanks to UGM, kita bisa mengakses jurnal di mana saja dengan syarat punya koneksi internet dan tentunya berstatus mahasiswa UGM. Di Jogja, banyak sekali cafè-cafè dengan arsitektur dan interior yang menarik (di Makassar juga sudah mulai berjamuran). Saya senang dengan bangunan indische atau kolonial dan favorit saya adalah Indische Coffee yang berada di Benteng Vreedeburg (kurang kolonial apa lagi coba?). Beberapa orang yang datang ke Jogja dan ingin bertemu saya biasa saya ajak kesana. Tapi kali ini ingin sesuatu yang berbeda. Hasil blogwalking saya di blognya ruthwijaya yang membuat saya menemukan Epic Coffee & Epilog Furniture. Btw, mbak Ruth ini hampir saja saya jadikan informan penelitian tesis saya, sayangnya kami belum berjodoh (pssstt...). 

Jujur saja, ketika melihat arsitektur dan interior-nya Epic Coffe ini saya langsung surprise, masa sih yang beginian sudah ada di Jogja. Tapi, yah...ternyata memang benar adanya. Epic Coffee ini terletak di daerah Palagan, patokannya dari Hyatt, kira-kira 100 meter ke utara. Bangunannya berbentuk warehouse dengan langit-langit yang tinggi dan jendela-jendela besar. Ketika memasuki bangunan, kita akan bertemu dengan bar di mana para barista akan membuat kopi-kopinya. Makanan yang dijual memang dominan barat tapi ada juga beberapa makanan yang tradisional. Saya sesungguhnya bukan pecinta kopi meski bapak saya punya kebun kopi di Flores sana. Tapi, saya cukup surprise ternyata Epic juga menyediakan kopi Flores sebagai salah satu menu andalannya. Sayang sekali, karena saya tidak doyan minum kopi hitam, saya hanya memesan minuman kopi yang sudah divariasi seperti Cappucino dan Frappucino. 


*nice isn't? *foto: meike


*berasa kayak di Filosofi Kopi, foto:meike


 cara cerdik dan manis untuk menyimpan majalah *foto: meike


suasana di dalam Cafe *foto: meike


kalau bosan di dalam ruangan, kita bisa memilih tempat di luar ruangan yang cozy dengan taman-taman di sekelilingnya *foto:meike


Sayangnya, sore itu hujan turun deras sekali sehingga saya tidak bisa memotret arsitekturnya dari depan. Suara Peggy Lee yang menyanyikan I'm Confessin' semakin membuat suasana menjadi syahdu. Dinginnya udara (bukan disebabkan AC) membuat perasaan gloomy (entah karena persoalan akademik atau hati) semakin membuat biru perasaan. Sambil mendownload beberapa artikel, saya tidak bisa menafikan bahwa suasana "gudang" kental terasa. Ini menjadi keunikan tersendiri. Bukan tanpa alasan, arsitekturnya bergaya warehouse seperti ini. Epic Coffee harus berbagi ruangan dengan saudaranya Epilog Furniture yang menjual berbagai furniture. Trust me, berada di sana membuatmu ingin memiliki rumah dan memborong perabotan-perabotan ini. 


*welcome to the Epilog Furniture, foto: meike



all this furnish makes you crazy, isn't? *foto: meike


meja berwarna biru tosca yang saya taksir ini harganya sekitar Rp. 1.800.000-an loh *foto:meike



classical dining table *foto:meike


*mejanya ini pengen banget kubawa pulang, foto:meike


satu set begini cocok untuk rumah idaman saya deh hihiii..*foto:meike


Memang beberapa perabot kental dengan nuansa western dan minimalis. Mungkin kalau kamu mau punya rumah seperti para Hobbit atau mau buka cafè dengan suasana western-boneka-homey seperti ini, kamu pasti gatal untuk membeli (atau meniru) furnish-furnish yang ada di sini. Saya memotret beberapa, siapa tahu bisa dibuat sendiri dengan harga yang lebih miring. Soalnya, ada beberapa lemari yang harganya sampai mencapai 20 juta rupiah. Dengan menikmati dan keinginan memiliki perabotan seperti itu, hmm...sepertinya memang harus kerja keras.

Cafè ini hanya punya satu kekurangan: ia tidak memiliki operator musik yang cangih. Masa hujan-hujan di sore hari lagunya disko-diskoan, syukurnya bunyinya juga samar-samar karena kalah bersaing dengan suara hujan. Untungnya saya juga selalu punya playlist di laptop. Malam kemudian menyapa dan hujan juga sudah reda. Saya memutuskan pulang. Sebelum meninggalkan tempat ini -masih dengan bau petrichor-,  saya memotret bangunan Epic di waktu malam. Not bad. Ketenangan dan atmosfir yang dihadirkan bangunan ini menjadi senjata untuk membunuh rasa jenuh. 


Good night, everybody *foto: meike




love, meike
pada hari april mop, sehari menjelang Kamis Putih

Review Film

Nonton Friends Lagi Yuk...

Selasa, Maret 31, 2015

*pic from Google*


Jika saya sedang jenuh pada sesuatu, saya biasa melakukan "escape from time" atau melarikan diri dari realita sekarang menuju masa yang lewat (karena belum bisa berjalan ke masa depan). "Mesin Waktu" itu bisa berupa buku yang melegenda, lagu-lagu lawas, atau film-film jadul yang jadi icon di zamannya. Kita bisa memetik hikmah sekaligus membaca zaman dari hal-hal yang kita temukan dalam mesin waktu itu. Salah satunya adalah ketika Mbak Truly menawari saya untuk menonton serial Friends. Awalnya saya masih ogah-ogahan, tapi come on ini adalah Friends. Semua generasi 90-an tahu serial ini (zaman itu acara TV memang masih sedikit dan hanya orang kaya yang punya parabola). Ketika pulang ke Makassar kemarin -dan koleksi film saya sudah menipis-, iseng-iseng saya mencoba menonton satu episode dan....ketagihan. 

Ketika serial Friends heboh hampir 20 tahun lalu, saya masih anak-anak. Gigi geraham saya belum tumbuh dan saya belum bisa cebok sendiri. Serial itu mulai tayang pada tahun 1994 di mana waktu itu saya belum masuk TK. Saya bahkan tidak bisa membaca nama Phoebe, salah satu karakter dalam serial itu dengan benar. Saya menyebutnya "Pobe" dan bukan "Vibi" seperti yang seharusnya. Saya tidak ingat bagaimana ceritanya di awal-awal session. Lagipula serial itu ditayangkan cukup larut di televisi (bagi saya yang masih balita). Samar-samar saya ingat, ada sepasang sahabat yang menikah di antara mereka (Monica dan Chandler). Dan ketika saya menonton kembali (saat ini sampai session 6), kemungkinan saya dulu sempat menonton sampai season 7, setelah itu saya tidak lagi mengikuti serial ini yang berakhir ketika saya duduk di bangku SMP. 

Friends adalah salah satu serial paling sukses yang diproduksi di Amerika. Serial yang melejitkan nama Jennifer Aniston, Courtney Cox, Matthew Le Blanc, David Schwimmer, dan Matthew Perry ini bertahan selama 10 tahun dari tahun 1994-2004 dengan total 10 season. Para bintangnya disebut menjadi artis serial termahal dengan honor 1 juta dollar/episode. Friends juga menjadi salah satu icon New York City selain Cats dan Broadway-nya, karena sebagaimana kita tonton di film The Terminal, sewaktu Tom "Viktor Navorski" Hanks dalam perjalanan untuk melengkapi apa yang ada dalam kaleng yang ia sebut "jazz", kita disuguhkan scene-scene icon kota New York seperti yang disebutkan Viktor: Cats dan bilboard Friends. 

Kisah ini menceritakan 6 orang yang menjadi sahabat. Karakter utamanya adalah kakak-beradik Ross (David Schwimmer) dan Monica Geller (Courtney Cox) yang memiliki sahabat-sahabat: Rachel Green (Jennifer Aniston), sahabat Monica sejak SMA yang ditaksir Ross mati-matian, Chandler Bing (Matthew Perry) roomate Ross sewaktu kuliah yang kemudian tinggal bersebrangan dengan apartemen Monica dan memiliki roomate, seorang aktor keturunan Italia Joseph "Joey" Tribbiani (Matthew Le Blanc) yang tampan tapi bodoh, serta Phoebe Buffay (Lisa Kudrow) mantan roomate Monica yang masih tetap berhubungan baik meskipun sudah pindah apartemen. Keenam sahabat ini memiliki karakter yang berbeda dan menghadapi konflik yang dekat dengan realita yang sehari-hari kadang kita hadapi. Mereka sering berkumpul di coffeeshop bernama Central Perk. Tempat itu semacam menjadi public sphere mereka selain apartemen Monica atau Chandler. 

Kita akan tertawa dengan humor-humor cerdas dari Chandler yang sarkastis atau Phoebe yang unik dan apa adanya. Kadang-kadang kita dibuat sebal dengan sikap Monica yang obsesif compulsif dan Joey yang ceroboh. Kadang tanpa sadar kita dibuat menangis dengan scene-scene yang sebetulnya sederhana tetapi memiliki kedalaman makna seperti ketika Rachel mengetahui -melalui video rekaman prom Monica- bahwa Ross selama ini memiliki perasaan padanya sejak dulu atau kita dibuat terharu dan tertawa ketika Chandler dan Monica lamaran.

Kekuatan serial ini karena menyuguhkan kisah dengan problem-problem yang kita hadapi sehari-hari dalam realita. Misalnya: bagaimana hubungan awkward Rachel dan Ross ketika putus dan sikap sahabat-sahabatnya atau ketika Monica dan Chandler akhirnya pacaran dan kucing-kucingan dari sahabat-sahabatnya. Kita juga akan melihat isu komitmen dan percintaan beda usia yang disentil dalam beberapa episode. Serial ini tidak hanya mengangkat tema percintaan dan persahabatan tetapi juga menyentil isu-isu sosial seperti feminisme dan gender, lesbianisme dan gay, persoalan buruh, perlindungan hewan dalam industri fashion, plagiat, perbedaan kelas sosial, surogasi, dan banyak lagi. Isu-isu tersebut tidak dibungkus secara serius melainkan komikal, sehingga dari komedi-komedi itu maknanya menjadi lebih mengena kepada audiens dan semakin membuat serial ini tidak sekedar picisan. Selain karakter masing-masing tokoh begitu kuat dan unik sampai-sampai kalau saya menonton serial ini sejak awal akan sulit menghilangkan masing-masing pemain dari karakter mereka di Friends dengan film-film mereka yang lain. 

Bagi saya yang menonton serial ini 20 tahun kemudian, jelas terasa kekontrasan zaman yang dijadikan setting dalam film ini. Pertama, dari segi backsound lagu-lagu lama seperti With or Without-nya U2, The Way Look Tonight-nya Tonny Bennet, Wonderful Tonight-nya Eric Clapton atau All By Myself-nya Eric Carmen turut menghiasi beberapa adegan plus OST-nya dari The Rembrandt - I'll Be There For You yang iconic. Kedua, tentu saja kita membaca zaman dari gaya fashion yang sangat 90's dan awal millennium. Saya agak surprise ketika menonton salah satu episode di mana Rachel memakai baju yang ternyata sama persis dengan yang saya miliki sewaktu kecil dulu. Di adegan itu, Rachel menggunakan turtleneck biru bulu-bulu yang mungkin sedang trend di masa itu. Saya sendiri tidak terlalu menyukai baju itu karena lengannya yang terbuka (saya dulu tidak suka memakai baju yang terbuka) sehingga kira-kira tidak lebih dari tiga kali saya memakai baju itu. Saya jadi bertanya-tanya, apakah baju itu masih tersimpan di rumah atau mungkin berakhir di tangan para sepupu?


turtleneck biru bulu-bulu yang sama persis dengan milik saya waktu kecil.


Ketiga, teknologi yang digunakan masih sangat jadul, seperti telepon dan pager yang masih menjadi alat komunikasi paling kece masa itu. Di beberapa session akhir tahun 90-an barulah muncul telepon genggam. Komputer dan laptop yang digunakan juga masih memiliki OS entah zaman kapan dengan tampilan layar hitam dan hijau. Minimnya penguasaan teknologi komunikasi di masa itu, membuat komunikasi face to face di antara mereka terasa intim. Bandingkan dengan kita yang hidup di masa sekarang yang lebih suka berkomunikasi dengan smartphone ketimbang dengan orang yang duduk di depan kita. Ironis memang. Scene-scene itu menjadi teguran bahwa percakapan langsung memang jauh lebih menyenangkan.

Pada akhirnya, sama seperti serial-serial jadul lainnya seperti Sex and The City, Ally McBeal,  atau Desprete Housewives, Friends tetap menjadi salah satu yang memorable dan membuat siapapun yang menontonnya saat ini tercerahkan sekaligus bernostalgia. 

Life Story

Mengunjungi "Ayah"

Jumat, Maret 27, 2015

Tulisan Kota Kupang*foto: meike




Tiba-tiba saya diliputi rasa kehilangan.

Suara menderembum dari pendingin ruangan yang mungkin umurnya sebaya dengan saya membuat suasana menjadi horor. Maklum mesin tua. Kadang-kadang bunyinya seperti orang yang sedang jalan mondar-mandir, kadang-kadang seperti suara orang mengetuk-ngetuk meja. Bisingnya membuat saya tidak tahan. Tapi, saya juga tidak mau mematikannya, selain karena nanti pengap tanpa bunyi-bunyian, telinga saya malah semakin peka. Bisa-bisa saya skizofrenik nanti. Untuk menyemarakkan suasana, saya menyalakan TV. Biarlah suara cerewet televisi menjadi teman yang akrab untuk saat ini. Saya tidak tahan dengan kesunyian ganjil yang dihadirkan ruangan itu setiap malam. Apalagi setelah pagi tadi mendengar cerita bahwa ternyata sayalah satu-satunya yang menginap di lantai 3 hotel tua itu. Maka jadilah, suara-suara dari ac dan TV saling beradu, menciptakan harmonisasi yang sama sekali tidak sukses. Selain itu, sendiri di kamar hotel juga akan membuatmu waspada sehingga kau akan sulit tertidur meskipun tubuhmu sudah lelah dan matamu terpejam.

Sebelum tayangan komedi berubah menjadi acara panggil arwah, saya buru-buru mengganti channel ke tayangan berita. Dan begitulah...dengan latar belakang berita kematian mantan perdana menteri Singapura, perasaan kehilangan itu muncul lagi. Saya merasa sedih. Namun, bukan sedih yang "sedih" tapi sedih yang tidak membuatmu putus asa. Laksana seorang anak yang berjumpa dengan ayahnya setelah sekian lama tak bersua, lalu belum genap berpelukan mereka terpaksa  berpisah. Perpisahan itu pun terjadi tanpa semarak. Hening. Ada jarak yang membuat kami lebih baik berpisah dalam diam. Ada kemesraan yang lebih intim meski kami hanya bertatapan saja. Ada perekat di bibir yang membuat kata-kata tak mampu diucapkan. Tapi rasa itu nyata, memenuhi hati, sehingga jika saya tak kuat, akan membumbung melewati rongga dada dan meledak berupa air bah di pelupuk mata. Begitulah ketika tanah Timor berhasil kujajaki. Kota Kupang yang seperti lagu tua yang didendangkan orang-orang tua sejak lama. Tanah yang selama 23 tahun hanya mampu dikenal sebatas cerita orang. Tanah yang kuyakini adalah ayahku, darahku setengah berasal. 

Jangan dianggap ini begitu klise. Karena akhirnya saya tahu bahwa Timor bukanlah ayah saya melainkan saudaranya, Flores. 23 tahun, bayangkan! 23 tahun saya percaya bahwa saya orang Timor. Saya dipiara dalam pengetahuan tentang ayah yang ternyata paman sendiri. Dan kenyataan itu tidak hanya membawa keceriaan karena mengetahui memiliki ekstasinya sendiri. Ada rasa sesak disana. Bahwa kau selama ini salah sangka. Kadang-kadang prasangka membuat kita perlahan-lahan menghakimi. Jika kau salah menghakimi, maka prasangka jenis ini akan membuatmu merasa bersalah dan menyesal. Akan tetapi, prasangka yang saya rasakan tidak menghakimi melainkan memberikan kesadaran. Ia tidak memberi rasa bersalah dan menyesal tetapi ia datang dengan pengertian bahwa akhirnya kau mengetahui akarmu yang sejati.  

***

Kupang adalah kota yang menyenangkan dengan orang-orang yang ramah. Mereka tak ragu menyapamu dengan bahasa daerah mereka. Mereka juga tak ragu bercakap meski kau berasal entah dari mana. Kupang bukanlah kota milik satu etnis. Ia adalah kota yang menampung siapapun dan darimana saja berasal. Di sana ada orang Timor, Flores, Sumba, Alor, Timor-Timur, Maluku Tenggara, Bugis-Makassar, Jawa, dan kelompok imigran pencari suaka politik dari Timur Tengah. Mereka berkumpul bersama dengan berbagai bahasa. Dalam perbedaan budaya saling menyatu namun tetap memperlihatkan kekhasan masing-masing. Kau akan takjub bahwa di pelosok Flores sana, seorang perempuan Jawa masih tetap melaksanakan tradisinya tanpa jemu. Kau juga akan maklum bahwa meski berada jauh dari kampung halaman, tetap saja kehidupan sebagai nelayan didominasi orang-orang Bugis-Makassar. Tradisi ternyata tak mudah hilang meskipun tanah air hampir-hampir seperti dongeng.

Saya tertidur ketika suara TV mengumandangkan adzan subuh. Saya bermimpi tentang seseorang di masa lalu yang saya lupa siapa. Tidak begitu jelas juga peristiwa apa yang terjadi di alam sana. Saya terbangun hampir pukul 11 siang. Saya harus check out dari hotel jam 12 siang. Saya harus check in di bandara pukul 2 siang. Dan tak lupa saya harus mencari daging se'i babi khas Kupang. Saya belum berfoto di depan tulisan Kupang di Taman Nostalgia, dan masih mencari oleh-oleh syal tenun untuk teman di Jogja. Masih langsik, saya mandi saat itu. Sial! showernya tidak menyala. Saya memakai baju kembali dan hendak memanggil pelayan hotel. Tapi begitu saya coba lagi, showernya nyala dan airnya deras. Saya merasa dikerjai. Setelah selesai berdandan dan mengecek barang-barang saya keluar dari kamar itu. Cuaca masih cerah. Matahari bersinar gembira sekali siang itu. Kemarin, Kak Dicky bercerita bahwa Kupang akhir-akhir ini sudah jarang hujan. Ia bertanya bagaimana dengan di Jogja dan Makassar dan saya menjawab masih hujan meskipun dengan jadwal yang tak pasti.



Se'i Babi dan sayur daun papaya *foto:meike



Kata "Nostalgia" itu loh...:p *foto: Jeffry



Sebelum ke bandara El Tari, saya menyempatkan diri untuk singgah di Taman Nostalgia dan berfoto di depan tulisan "Kupang" itu. Jeffry, supir hotel yang berasal dari Kefa menjadi fotografer saya hari itu. Tak jauh dari Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian yang kembar dengan saudara-saudaranya di kota Ambon, Yogyakarta, Bali, Palu, dan Ciamis. Saya pikir tak ada salahnya berfoto di sana meskipun saya sudah pernah berfoto di depan Gong Perdamaian di Ambon. Mungkin suatu saat bisa jadi koleksi. Aneh juga, gong perdamaian itu ada di rumah "ayah" dan "ibu". Saya tak memperhatikan kalau matahari sudah tertutup awan. Langit mendung pertanda akan hujan.


Dalam perjalanan itu, hujan keras turun. Padahal selama tiga hari saya di Kupang, tak pernah turun hujan. Saya teringat salah satu filosofi yang ada di Papua, Maluku, dan ternyata sama juga dengan di tanah Timor ini.  Tubuh dan jiwa terikat dengan tanah leluhur. Bahkan di Papua, tanah bisa menjadi tak subur justru ketika jiwa manusianya yang rusak. Koneksitivitas itu yang membuat perasaan selalu ingin pulang menghimpit mereka yang menjadi perantau. Saya yakin, hari itu ayah saya juga bersedih melepas kepergian saya. Maka hujan pun turun dengan deras.


***

Pesawat saya take off pukul 4 sore. Selama saya dari perjalanan ke bandara sampai pesawat yang saya tumpangi tiba. Hujan masih deras turun. Saya menelpon Mami mengabarkan cuaca yang buruk. Mami bilang saya harus berdoa supaya cuacanya cerah kembali. Sejak kasus jatuhya pesawat Air Asia, cuaca buruk dan awan hitam menjadi faktor utama penyebab orang paranoid naik pesawat. Tapi, perasaan saya biasa saja. Saya tetap berdoa namun tetap merasa bahwa hujan kali ini bukanlah hujan semata. Ia adalah sasmita, pertanda. Ia bukan musibah pada saat ini. Anehnya, ketika saya akan naik ke pesawat. Hujan berhenti. Lalu cahaya matahari perlahan-lahan merembes. Ketika pesawat mulai berada dalam 11 menit paling menegangkan dan melewati udara Kupang, cuaca cerah sekali. Matahari menyambut dengan genit.

Sementara langit Kupang di belakang sana sudah menghapus air matanya sambil tersenyum.