The Torchbearer

Jumat, November 13, 2020


Seperti Hobbit lainnya, Frodo juga senang makan, berpesta, dan tidur-tiduran memandangi langit biru. Tak pernah ia menduga bahwa pada suatu hari, pamannya Bilbo memberinya warisan, sebuah cincin sakti yang memiliki kekuatan dahsyat untuk memerintahkan kekuatan-kekuatan lain bersatu di bawah kendalinya. Dunia menginginkan cincin itu, tetapi Frodo tidak. Ia hanya seorang hobbit tulus hati yang ingin hidup tenang. 

Gandalf memandangi Frodo yang sudah siap dengan mantel dan bekal perjalanannya. Ia menyerahkan sebuah tongkat pada Frodo untuk menempuh terjalnya jalan yang akan dilewati. Hati Gandalf terenyuh. Tak sampai hati menyaksikan tubuh sekecil itu menanggung beban yang luar biasa berat. Beban yang tidak seharusnya ia pikul.

***

It was a gift.  Begitu kata mereka. Sebuah karunia yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Karunia itu diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan dan dirawat oleh mereka yang lebih dulu menerimanya. Namanya juga hadiah, itu tidak bisa diambil kembali. Yang menerima mau lari atau menolak pun tidak akan bisa. Itu hanya akan membuat dirinya lelah dan susah. Karunia itu pada akhirnya harus diterima sebagai bagian dari jati diri. Sesungguhnya, karunia itu tidak sembarangan diberikan kepada para keturunan. Karunia itu juga memilih siapa tuannya. Hanya yang jiwanya tulus dan kuat yang bisa belajar mengendalikan dan menggunakan karunia itu.  Power control itu harus diarahkan demi kepentingan orang banyak. Kekuatan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka yang berhasil akan menjadi penyeimbang semesta. Mereka yang gagal  akan dihisap oleh kekuatan itu dari dalam. Yang berhasil akan serupa dengan Gandalf. Yang gagal akan seperti Gollum.

Frodo harus belajar mengendalikan dirinya. Ia harus mengenal dirinya lebih dulu. Ia harus bertanding dengan dirinya sendiri. Dirinya sendiri adalah guru dan lawan yang terbaik. Untuk bisa menggunakan karunia itu, Frodo harus belajar untuk bisa menyeimbangkan hati, pikiran, hasrat, dan tubuhya. Ia juga harus sadar dengan inner child-nya. Frodo dituntut untuk netral. Ia dituntut untuk mengelola kelima hal tersebut dalam dirinya tanpa berpihak pada salah satu. Ia harus belajar menerima dan mencintai dirinya sendiri apa adanya. Ia harus mengenali semua kekuatan dan kelemahannya serta mengelolanya dengan bijak. 

Ia tidak boleh terlalu marah. Ia tidak boleh terlalu sedih. Ia tidak boleh terlalu bahagia atau bangga. Ia tidak boleh terlalu memiliki sesuatu atau seseorang. Ia tidak boleh dendam. Ia tidak boleh terlalu memiliki ambisi. Ia harus belajar menjadi kecil meskipun memiliki daya yang besar. Ia harus belajar mengikuti gerak Semesta. Ia harus belajar patuh pada The Divine

Jika ia berhasil menguasai dirinya, maka ia akan menjelma sebagai the torchbearer, si pembawa obor. Ada banyak orang-orang yang seperti dia di dunia ini. Mereka yang menerangi orang-orang agar mengikuti Cahaya yang Sejati dan agar kegelapan tidak menguasai dunia. Mereka memiliki karunia masing-masing. Frodo harus berpihak pada jalan Terang, tetapi tidak boleh membenci kegelapan. Baik dan Buruk adalah kaki kanan dan kiri, keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya berlindung di bawah The Divine

***

Frodo melihat dampak dari beban itu. Ia tidak mau orang-orang yang dicintainya terluka karena dirinya. Maka, ia memutuskan untuk pergi membawa cincin itu ke Mordor. Biarlah ia yang menanggung beban itu sendirian. Tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya. Itu Samwise Gamgee, sahabatnya. Frodo menjauh, tapi Sam terus mengejar meskipun ia harus tenggelam. Frodo tidak sampai hati melihat Sam yang kesulitan. Ia menarik tangan Sam dan mengangkatnya dari dalam air. 

"Apakah kau gila, Sam?," tanya Frodo. "Perjalanan ini berbahaya," ujarnya.

"Aku sudah berjanji pada Tuan Gandalf. Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Sam. 

"Oh Sam...," Frodo terharu. 

The Divine tidak akan membuat orang-orang yang melayaniNya sendirian. Ia akan memberi mereka petunjuk. Ia akan membimbing mereka. Ia mengutus mereka berdua-dua, supaya kalau yang satu jatuh, yang lain menopang. Kalau yang satu sedih, yang satu menghibur. Mereka saling menolong, menguatkan, dan mendoakan. Mereka akan bertemu dengan teman-teman seperjalanannya yang lain. Mereka akan menciptakan jaringan kosmis yang indah. 



You Might Also Like

0 comments