Menikah (Part 1)

Sabtu, Oktober 17, 2020

Sebenarnya apa tujuan orang menikah?

Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan teori-teori sosial-humaniora yang canggih. Tapi, aku ingin membagi kisah tentang pernikahan yang aku pikir tidak ada. 

Sahabatku Juni pernah bercerita tentang dua dosennya yang merupakan suami-istri, Pak Link dan Bu Link. Mereka adalah dosen sekaligus misionaris dari Jerman yang diutus ke Indonesia dan mengajar di sekolah teologi di kota kami. Sebenarnya yang pendeta, misionaris, dan teolog itu Pak Link sementara istrinya, Bu Link seorang psikolog. Bu Link mendukung dan menemani perjalanan Pak Link "menjaring manusia" di bumi pertiwi. Kata Juni, kalau Pak Link mau khotbah, ia akan membacakan khotbah yang ditulisnya di depan istrinya terlebih dahulu sebelum di depan jemaat. Bu Link lalu akan memberikan pendapat dan sarannya entah itu tentang gaya khotbah, intonasi, bahkan isi khotbah suaminya. Mereka tinggal berdua di rumah dinas yang disediakan kampus. Mereka sudah lama menikah dan tidak punya anak. Usia mereka sudah paruh baya. Dalam sebuah acara, pernah ada yang bertanya pada Pak Link tentang ketidakhadiran anak dalam keluarga mereka yang selalu tampak harmonis itu.  Jawaban Pak Link sungguh diluar dugaan. Sambil menatap istrinya dari jauh yang sedang sibuk bercerita dengan kolega yang lain, Pak Link menjawab," Saya menikah dengan istri saya bukan untuk memiliki anak, tetapi karena saya ingin hidup dengan dia." 

***

Hubungan orang tuaku juga mengajarkanku tentang cinta. Hubungan mereka tidak bisa dibilang mulus-mulus saja seperti dongeng Disney. Penuh trial and error. Mereka seperti langit dan bumi. Namun, ada juga hal-hal yang membuat mereka dapat berjalan bersama: dua-duanya orang yang takut Tuhan, punya komitmen dan loyalitas yang tinggi, serta selalu memberikan yang terbaik untuk anak. Mami punya dunia sendiri, Daddy punya dunia sendiri. Tetapi, mereka tidak saling ganggu. Komunikasi dan keterbukaan adalah kunci. Mereka juga mengajarkanku etika: kita harus menghormati privasi setiap orang. Daddy punya rutinitas yang membuat dia merasa "secure". Mami sibuk dengan pekerjaannya dan pelayanannya. Tidak ada pertunjukkan afeksi yang berlebihan. Mereka seperti co-exist saja. Aku paling suka kalau mereka sedang berdiskusi, nyambuuung sekali membicarakan apa saja. Mereka juga melibatkan aku dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Jadilah kami, The Three Muskeeters. Aku bersyukur keluargaku demokratis. 

Tapi, badai juga datang dan banyak rahasia-rahasia di masa lalu yang membuat kami tidak bisa tertawa. Perpisahan pernah hampir terjadi dan aku diserang dilema hebat. Namun, akhirnya mereka berusaha mengatasi perbedaan-perbedaan mereka. Mencari titik keseimbangan untuk stabil. Aku belajar setia dari mereka. Jika kamu punya masalah dengan pasanganmu, bicarakanlah berdua, cari titik temu, dan solusinya, bukan mencari pelarian pada orang lain. Bukan pula melakukan kekerasan bagi satu sama lain.  Kejujuran itu penting. Komunikasikan apa yang menganggu hatimu, tetapi jangan lupa untuk mengapresiasi pasanganmu. Jadilah dirimu apa adanya. Hubungan yang baik dan sehat tidak jatuh dari langit, tetapi selalu harus diusahakan. Ambil sela, sebelum melangkah sama-sama lagi. Kita bisa mandiri, tetapi jika bersama kita akan jauh lebih kuat. 

Dari orang tuaku, aku belajar bahwa cinta itu bertahan. Kamu tidak meninggalkan orang-orang yang kamu cintai terlepas segala kelebihan dan kekurangannya. Mami tidak pernah berdoa meminta Tuhan mengubah suaminya, ia meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menghadapi suaminya. Daddy? aku tidak tahu dia berdoa apa. Tetapi, dia tidak meninggalkan kami berdua meskipun dia punya seribu satu alasan untuk pergi. Seumur hidup menjadi anak mereka, aku tidak pernah melihat orang tuaku mesra-mesraan. Tetapi seperti lirik lagu The Smith," to die by your side, well, the pleasure, the privilege is mine", Mami menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Daddy. Bagiku, tak ada kematian yang seindah dan seromantis itu. 

***

Secara umum, konstruksi gender telah mengajarkan perempuan bahwa menikah adalah tujuan hidup. Sebaliknya, laki-laki bisa dengan bebas memilih pengantinnya sebagai properti dan "pengganti ibu" yang akan mengurus dirinya kelak. Bagi laki-laki, ada atau tidaknya perempuan di sisinya tidaklah menganggu eksistensi mereka, meskipun hal itu mengganggu ego maskulinitasnya. Itulah sebabnya, mereka bisa menambah atau "jajan" pasangan jika mau atau kalau tidak ada pun ya tidak masalah. Dunia laki-laki adalah dunia atas cita-citanya, perempuan yang menjadi pasangannya hanya salah satu bagiannya saja. Kadang bahkan dianggap sebagai ancaman atau ganjalan sehingga harus disingkirkan. Beda dengan perempuan, menikah adalah persoalan eksistensi. Laki-laki yang menjadi pasangannya akan menjadi dunianya. Seluruh hidupnya akan dicurahkan untuk pasangannya dan anak-anaknya. Sistem patriarki menciptakan ketergantungan bagi perempuan terhadap laki-laki, mulai soal finansial sampai emosi. Sayangnya, perempuan akan pelan-pelan kehilangan dirinya sendiri setelah menikah. Ia akan semakin jarang dipanggil dengan namanya, melainkan berganti menjadi Ny. Suami dan Ibu dari Fulan, anaknya. Kehilangan diri sendiri merupakan luka bagi perempuan. Di sinilah, jika tidak pandai mengenali diri sendiri dan mencari ruang pembebasan, maka mereka bisa jatuh menjadi monster feminin. Misalnya, mereka menjadi ibu yang narsistik atau queen bee yang menganggap perempuan lain ancaman. 

Menikah adalah peristiwa budaya, sementara jatuh cinta adalah peristiwa takdir. Kita bisa selalu memilih untuk menikah dengan siapapun. Tapi, soal hati itu bisa sedikit lebih rumit. Pertimbangan orang menikah pun tidak semata karena cinta saja. Untuk membangun keluarga, maka merger di antara dua keluarga akan dilakukan. Dalam konteks Indonesia, idealnya pernikahan adalah keselarasan budaya, agama, dan status sosial yang harus sinkron. 

Tidak ada yang salah dengan menjadi istri dan ibu. Aku suka merawat dan yakin bisa jadi istri dan ibu yang baik dan berjuang untuk mereka. Tetapi, aku juga sangat sadar bahwa aku tidak suka dikekang. Aku tidak suka diatur-atur. Aku tidak bisa dibuat patuh. Semakin aku diatur, semakin aku melawan dan akhirnya pergi. Tentu saja laki-laki patriarkal tidak akan suka dan tahan denganku dan akupun tidak akan tahan dan suka dengan mereka. Sampai detik ini, aku tidak bisa terima dengan UU yang masih timpang terhadap perempuan dalam pernikahan. Aku juga tidak suka legitimasi agama yang mengatakan bahwa "istri harus tunduk pada suami" dan "istri harus dibimbing oleh suami sebagai imamnya". Aku adalah imam bagi diriku dan mencari Tuhan dengan caraku sendiri. Aku tidak bisa dipakaikan "topi baja" untuk taat pada suatu sistem yang membuatku menjadi penurut (dan ini paradoks karena sekarang aku sudah dipakaikan "topi baja" oleh sistem yang membuatku harus pandai menjadi si penurut dan anarkis sekaligus hehehe). 

Ya, menikahlah jika kalian mau dan membuat kalian bahagia. Kalau itu standar bahagiamu, maka jalanilah dengan sukacita. Tetapi, ingatlah bahwa tidak semua orang memiliki standar ideal yang sama denganmu.

You Might Also Like

0 comments