Selibat

Sabtu, Juni 03, 2017

Dulu pernah kubaca dalam novelnya Ayu Utami, "Para selibat itu seperti anjing, menarik karena mereka terikat". Tidak pernah terlintas di otakku untuk berhasrat pada seorang Imam. Memikirkannya pun ngeri. Lebih-lebih berkhayal jadi istri Pendeta. Ughh...bebannya berat euy. Mending jadi kaum awam saja tak perlu bertanggung jawab pada dosa umat, tak perlu punya beban sosial menjadi teladan. Saya paham mengapa Nietzsche seperti itu, sebagai anak pendeta yang hidup dalam kungkungan kelamnya Gereja di masa lalu, ia pasti berontak ingin bebas dan merdeka.

Tapi pikiran itu lambat laun berubah. Rupanya untuk golongan minoritas seperti saya, kaum Imam inilah yang mampu menjadi lawan berpikir yang tangguh. Kaum lelaki awam baik dari Katolik atau Protestan amat sangat jarang kutemukan yang seperti itu. Mereka umumnya menjalani hidup lurus-lurus seperti mengikuti siklus. Langka ada gelora dan riak. Sementara para calon Pendeta ini kok cepat banget punya pacar atau menikah?

Maka banyak para perempuan-perempuan intelek ini senang dengan para selibat. Tidak terikat, tapi kebutuhan berdialog terpenuhi. Beberapa orang menganggap ini absurd dan tak senonoh. Tapi sungguh tidak mudah menemukan calon belahan jiwa yang punya pemikiran setara dan di saat yang sama pula kita berhasrat secara spiritual, emosi, dan seksual. Jumlah orang Kristen di Indonesia sekitar 17 juta bila dibandingkan penduduk Muslim yang sekitar 200 juta-an. Saya makin bersimpati pada agama minoritas lain macam Buddha, Hindu, dan agama-agama lokal lain. Seorang teman perempuan Hindu pernah mengeluhkan hal yang sama. Apalagi dia berasal dari kasta Brahmana, makin sedihlah dia. Kelompok minoritas tidak punya banyak pilihan. Belum lagi ternyata di dalam kelompok minoritas ini juga terbagi-bagi berdasarkan kelompok atau afiliasinya. Dan biasanya, kelompok minoritas berusaha mengeratkan kekerabatan mereka dengan hanya menikahi kelompoknya saja. 

Tentu ada pilihan lain. Kristen merupakan agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Tapi tidak di Indonesia. Untuk menemukan calon suami Kristen yang teruji dan berbobot kita harus mencari dari negara lain. Duh, berat di ongkos, Zus. Ini biasanya dikejar kaum kaya maupun kaum terdidik. Yang kelas menengah ke bawah, kuat-kuat saja berdoa ya. Dengan demikian, mari kita kalkulasikan kemungkinan bertemu jodoh di tanah air. Bayangkan sekali lagi: ada 17 juta orang Kristen. Kelihatannya banyak ya. Tapi tunggu dulu. 17 juta itu dipotong dengan yang sudah tua dan masih anak-anak. Dipotong dengan yang sudah menikah. Dipotong dengan yang masuk kategori LGBT. Dipotong lagi dengan yang diterima berdasarkan etnis, kelas sosial, denominasi gereja. Dipotong lagi yang pemikirannya sejalan. Dipotong lagi yang tingkat pendidikannya setara. Dipotong lagi dari golongan itu yang masih single. Dipotong lagi dengan mereka yang mau sama saya. Dipotong lagi dengan yang tidak patriarkis. Dipotong lagi dengan yang disetujui keluarga besar. Duh Gusti!

Ada sih peluang untuk menikah dengan pasangan yang berbeda agama. Tapi, relasi seperti ini meminta harga yang mahal. Selain harus selesai dulu dengan diri sendiri, kita pun harus kuat secara sosial dan ekonomi. Kedua calon mempelai harus memiliki posisi tawar yang kuat. Menurut saya sih, dengan adanya globalisasi dan pengaruh kedalaman spiritualitas seseorang, keberagaman niscaya terjadi. Sungguh sangat jahat menyuruh orang pindah agama hanya untuk melegalkan pernikahan. Menindas dan tidak adil. Pernikahan beda agama maupun sesama jenis menjadi rumit di negeri ini, negeri yang ajaibnya melegalkan anak perempuan dibawah 18 tahun untuk menikah. 

Jadi, biarkan dulu untuk sementara kami menikmati rasa kagum dengan para Imam. Bagaimanapun hati perempuan adalah perapian, apinya terus membara demi menghalau dinginnya cuaca. Mungkin memang kami pasangan spiritual para selibat. Seperti anjing, mereka kadang-kadang suka menyalak dan mengigit kalau didekati. Namun, percayalah mereka sungguh (diam-diam) rindu akan belaian. Walaupun tekad mereka menikahi komunitas begitu kuat, sebagai individu mereka pun merasakan getaran terhadap individu lainnya. Sesungguhnya menyukai Imam juga seperti mengagumi Rockstars. Mereka punya banyak groupies. Mereka milik semua orang. Mereka tidak akan menjanjikan apa-apa. Maka, kau harus kuat untuk berbagi dirinya dengan orang lain.  Jika kau memiliki hasrat memilikinya seorang diri, bersiaplah patah hati. 

Hadeu, memikirkan para selibat, lama-lama bikin sembelit. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Saya pikir tadi Imam teman angkatan ta si Igar -_-
    Hahahaha.. anyway bagus tulisanmu yang ini.. bikin ingat masa lalu (?)

    WKWK :)

    BalasHapus
  2. Memoriiiii...kau membuka luka lama yang ku tak ingin lupaaaaa..... *nyanyik* :p

    BalasHapus