Special Moment

Hi, I'm Cronut

Kamis, Oktober 31, 2013

Ini adalah makanan yang lagi happening di Amerika menurut Mbak Indri yang lagi ngambil master American Studies. Cronut merupakan gabungan dari croissant dan donut makanya namanya Cronut dan merupakan menu untuk breakfast. 

cronut white chocolate



cronut choco


Rasanya jangan ditanya, bayangkan saja croissant dan donut ala-ala J.Co jadi satu, terus ditaburi gula pasir yang memberikan efek kriuk-kriuk. Perpaduan yang klop antara white chocolate atau chocolate dengan vla yang menyatu dalam adonan croissant donut ini. Di Yogya sendiri saya baru temukan di Parsley ( salah satu outlet pastry) harganya 8000 rupiah/buah. Cronut ini termasuk makanan manis, makanya di Amerika disajikan dengan kopi pahit. 

Tertarik mencoba? 

Life Story

Lady in Waiting

Selasa, Oktober 29, 2013



According to the title, I just waited for sunset in Vredeburg and took a pic of my dress till' my feet (include the shoes). I love the atmosphere, suitable with my soul. 

I rarely post lately. So many papers that i've to finish in this mid-term. Really want to sleep well and go shopping hahaha..

Wish me luck yaaa :))


Ps: Grad student must be tough! 


Love Story

Yoko

Selasa, Oktober 29, 2013


“Dia wanita yang kuat. Saya pikir, jika John mencintainya, pasti ada sesuatu dalam dirinya. John tidak bodoh". - Paul McCartney



Maka seperti Yoko Ono dan John Lennon, kita harus pintar-pintar untuk jatuh cinta.

Aku dan Tuhan

Selalu Cukup

Sabtu, Oktober 19, 2013



Pernah suatu kali saya dan Mami pergi ke bank. Saya sudah lupa jenis transaksi apa yang kami lakukan namun peristiwa setelah transaksi di bank itu yang tidak bisa saya lupakan. Saat saya dan Mami menuju ke parkiran, seorang bapak penjaga parkir datang menghampiri. Ia kemudian mengambil alih setang motor dari tangan Mami agar motor itu dapat dikeluarkan dari sesaknya parkiran di halaman bank. Setelah motor berhasil lolos, ia mengembalikan kepada Mami. Seperti lazimnya yang terjadi di tempat parkiran, orang akan membayar jasa petugas parkir tersebut. Biasanya sekitar lima ratus sampai dua ribu perak. Kami bersimpati pada bapak penjaga parkir itu karena ia rajin, biasanya banyak tukang parkir yang malas dan tidak peduli. Hari itu kebetulan baik saya maupun Mami tidak memiliki uang kecil. Akhirnya dengan tidak enak hati Mami memberi uang sebesar lima ratus perak (maksud hati ingin memberi seribu-dua ribu namun apa daya). Si bapak petugas parkir yang sudah cukup renta itu menerimanya. Mami kemudian bertanya: 

"Cukup ji daeng?".
Secara mengejutkan si bapak menjawab:
"Selalu cukup. Tuhan tidak pernah kasi' kurang."

Kata-kata si bapak petugas parkir itu sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Disaat kiriman dari orang tua semakin menipis dan uang beasiswa dari pemerintah belum cair, perasaan khawatir kerap melanda. Namun disitulah gunanya iman. Saya selalu merasa bahwa hari esok pasti akan berbeda. Selalu ada berkat yang baru setiap hari. Akan ada duit yang ditransfer atau rejeki yang entah datang dari mana saja. Mungkin dalam bentuk traktiran atau oleh-oleh. Alhasil minimal uang yang ada dalam pundi-pundi rela saya habiskan demi membeli kesenangan kecil seperti buku atau es krim. Saya tak peduli. Saya ingin menikmati hidup. Dalam konteks tertentu apa yang saya lakukan memang boros tapi dalam hal tertentu saya hanya ingin merasakan sensasi jika keinginan itu terpenuhi. Nikmatnya memang candu tapi itulah hasrat manusia yang hidup.

Tetapi tentu saja boros bukanlah tindakan yang menguntungkan karena masa depan memang selalu tidak pasti. Setidaknya kita harus menyimpan sedikit sebagai jaga-jaga. Saya selalu teringat ayat dalam injil Matius ini,"Janganlah kamu khawatir akan hari besok, sebab hari besok memiliki kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah sehari". Ayat ini selalu menjadi pembenaran bagi saya untuk melakukan kelakuan hedonis sekaligus sebagai kekuatan dalam menghadapi pergumulan (jika menghadapi hari yang berat dan rasanya ingin semuanya cepat-cepat berlalu).

Benar kata bapak penjaga parkir itu, Tuhan memang selalu mencukupkan kita. Saya tidak pernah merasa berkelebihan atau berkekurangan. Selalu pas, cukup. Jika hari ini benar-benar abis, maka esoknya berkat yang baru tiba. Dalam hal ini saya belajar bahwa saya merasa cukup untuk apa yang saya butuhkan. Tetapi dilain sisi, saya merasa kurang untuk hal-hal yang saya inginkan.

Bukankah memang Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan?
Saya menutup hari ini dengan pengertian bahwa apabila Ia belum memberi apa yang saya inginkan saat ini berarti Dia tahu bahwa hal tersebut belum saya butuhkan. 

Life Story

Bahagia Memang Sederhana

Rabu, Oktober 16, 2013

*pic from Google*


Kata orang,"bahagia itu sederhana". Kita tak harus terpaku pada hal-hal besar yang menjadi standar kebahagiaan masyarakat kita. Punya pendidikan tinggi, punya pekerjaan bagus dengan gaji yang besar, memiliki barang-barang tertentu seperti mobil, motor Harley atau mungkin gadget-gadget terbaru. Kebahagiaan itu juga bisa berbentuk status. Ya, perbandingan orang-orang yang merasa tidak bahagia kalau belum menikah atau punya pacar berbanding lurus dengan orang-orang yang ingin pindah kelas, dari  bawah ke menengah, menengah ke atas,  atas ke langit. 

Kadangkala kita memang hanya terpukau pada hal-hal besar yang dibangun oleh masyarakat. Kita hampir lupa bahwa banyak hal-hal kecil yang berserakan di sekitar kita yang ketika kita hayati justru membawa pada rasa bahagia, gembira, dan yang namanya penderitaan entah menguap kemana.

Betapa bahagianya naik becak yang terpalnya dibuka pada malam hari sehingga membuatmu merasakan suasana malam. Kalau saya sih merasa seperti putri Keraton yang lagi dikirab hehe. Atau ketika sudah bersusah payah mencuci berember-ember baju kotor, begitu pakaian-pakaian itu kering betapa nikmatnya rasa kepuasan tersendiri itu. Ketika uang di dompetmu menipis dan tiba-tiba ada ajakan traktiran, mulutmu tak berhenti mengucap syukur. Bahkan ketika kita membuat orang lain tertawa karena tingkah konyol kita, kita pun merasa jauh lebih berbahagia.

Bahagia memang sederhana. Sesederhana mendengarkan suara anak-anak kecil tetangga sebelah yang berceloteh dalam bahasa Jawa dengan irama yang mendayu-dayu. Lagu yang indah untuk mengantarkan tidur siang hari ini.




PS: mau bilang lagi doyan tidur siang aja panjang ya hehehee...

Special Moment

Ladies's Night

Minggu, Oktober 13, 2013


Ini Mbak Indri, tetanggaku di kos-an. Mungkin ke depannya namanya dan beberapa nama penghuni kos yang lain akan sering muncul disini sebagai tokoh baru. Orangnya imut-imut kan padahal dia setahun lebih tua dari saya loh. Saat ini kami sama-sama mengambil program Master di UGM. Bedanya kalau saya transmigran dari Unhas ke UGM, Mbak Indri ini anak UGM sejati. Dulunya ia di FIB UGM, jurusan sastra. Sekarang ambil master di bidang American Studies. 

Oiya, Mbak Indri ini meski besarnya di Jawa tapi masih memiliki darah Bugis dari pihak ayahnya. Dia kepengen banget ke Makassar, makanya kalau ketemu ceritanya pasti gak jauh-jauh dari Makassar mulai dari kulinernya sampai budayanya. 

Beberapa hari ini saya ber-Ladies's night ria dengan Mbak Indri. Seperti hari ini kami makan mie ayam Mas Yudi dan kemudian sebagai dessert makan es krim  di Artemy yang sukses membuat dompet  kempis. Kami cerita ngalor-ngidul mulai dari kasusnya Dinasti Atut ( Mbak Indri ini tinggal di Cilegon dan dari ceritanya saya tahu masyarakat Banten tidak menyukai dinasti ini dan yang lain-lainnya), tentang kuliah yang berusaha disambung-sambungkan antara kajian masyarakat Amerika dan komunikasi, gosipin Lani "Frau" yang dulunya anak FIB UGM tapi sekarang sudah ke Inggris, tentang hidup ( yang ini merupakan hasil observasi kehidupan orang) dan pastinya tentang cinta *tetep ya.

Yang menyamakan kami apa ya selain hobi makan hehe mungkin karena kami sama-sama punya prinsip. Sama-sama gak mau nikah dulu sebelum jadi "orang" ( yang ini ada term and condition-nya ya soalnya jodoh kayak hujan di siang hari bolong). Intinya kami punya cita-cita dan keep fighting untuk mewujudkannya.

Dalam perjalanan pergi maupun pulang dari makan mie ayam Mas Yudi di daerah Sagan, Mbak Indri menunjukkan rumah idamannya di daerah ini. Daerah Sagan di Yogya itu termasuk daerah hijau karena asri dan juga strategis. Banyak banget tempat makan, distro, hotel, bahkan cafe-cafe. Rumah bergaya kolonial yang kuno tapi terawat bertaburan di tiap sudutnya. Mbak Indri punya mimpi untuk membeli rumah disini. Katanya sih harga tanah ( untuk 1 rumah ya harganya itu sekitar 10 M, ya ampun berapa tahun kerja jadi pegawai negeri yaa?). Mimpi itu dia tularkan pada saya karena saya menemukan sebuah rumah bergaya joglo kontemporer ( pokoknya Javanesse banget ) yang cocok untuk tinggal dan membuat keluarga. Tapi mengingat harganya hoaaa mimpinya berubah menjadi balon udara, tinggi membumbung tak tahu ujungnya. 

Entahlah, sejak tinggal di Yogya saya jadi sering "belanja" rumah idaman. Apa ini sindrom perempuan umur 20-an yang bukan lagi memikirkan "pacaran" tapi naik level ke "pernikahan"?

Kok saya jadi merinding ya...



Life Story

Yellow Submarine

Kamis, Oktober 10, 2013

Miss me?

hahahaaa...

Selalu menyenangkan ketika kita tahu bahwa ada yang merindukan kita. Ada orang-orang yang perhatian pada kita. Entah hanya bertanya "tugasmu sudah selesai?" atau "sudah makan hari ini?". Aristoteles memang benar, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Kita tidak bisa sepenuhnya sok antisosial, kita akan selalu membutuhkan orang lain. Dan meskipun secara fisik kita sendiri, toh kita selalu menemukan teman -banyak teman malahan- yang membantu dan menemani kita.

Akhirnya saya mulai mendapatkan "klik" pada ritme kuliah saya. Benar apa kata kak Phio dan Kak Ipa bahwa semester 1 dan 2 adalah masa dimana akan banyak sekali tugas tapi kalau dinikmati semuanya tidak akan menjadi beban. Intinya lakukan dengan sepenuh hati, hasilnya akan berbanding lurus kok. Jangan terlalu ngoyo karena akan membuat lelah dan stress. Jangan bertingkah yang "terlalu" karena akan mendapat petaka. Jadi orang yang cerdas, cerdas sikap dan otak. 

Orang tua adalah pilar dalam hidup. It's good to know that they're always there for me. Doa, telepon, dan sms mereka adalah bensin yang membakar semangat yang mulai meredup. Mereka mentransferkan dukungan dan rindunya. Kuncinya adalah komunikasi. Kalau ada masalah yang saya cari Tuhan dan orang tua. Curhat dengan mereka the best deh. Kadang sih mereka menelpon disaat tidak tepat, misalnya ketika saya lagi mumet dalam mengerjakan tugas sehingga bawaannya emosi terus, tapi mereka mengerti dan keesokannya kami bisa cerita apa saja. I'm blessed 'cause have them as my parents

Sudah hampir dua bulan saya tinggal di rumah ini. Hubungan antar sesama penghuni sudah semakin dekat. Saya sudah dianggap sebagai bagian dari mereka begitupun sebaliknya. Terutama dengan Eyang. Awalnya saya segan dengan Eyang. Namun lama-kelamaan kedekatan emosional itu semakin tercipta. Begitu juga dengan Mbak Par, asisten rumah tangga - yang seperti ibu bagi kami-. Beberapa hari ini saya menemani Eyang ngobrol di ruang TV. Ngobrolnya tentang apa saja. Saya tidak pernah memiliki Opa kandung. Kedua Opa yang berasal dari pihak ayah maupun ibu sudah lama meninggal. Saya hanya mengenal mereka lewat cerita-ceritanya saja. 

Ketika Tuhan lewat perantara Kak Phio membawa saya ke rumah ini dan berkenalan dengan Eyang, saya senang luar biasa. Saya bakalan punya Opa -setidaknya merasa demikian. Istri, anak-anak, dan cucu-cucu Eyang juga tinggal berjauhan dengan Eyang sehingga kehadiran kami ini -para anak kos- yang menjadi obat rindu beliau. Hari ini saya sukses membuat Eyang tertawa sampai terbahak-bahak. Ternyata membuat orang lain bahagia itu adalah the most tremendous feeling in the world. 

Kemarin iseng-iseng saya bertanya pada Eyang. 
Me: Eyang, waktu The Beatles konser di Amerika, Eyang nonton tidak?
Eyang : Wah...tidak sempat waktu itu banyak pekerjaan.
Me: Ohhh...dulu top banget ya disana?
Eyang: Iya...lagu-lagunya populer pada masa itu,  ada lagunya yang submarine..submarine itu..
(yang Eyang maksud adalah lagu The Beatles yang berjudul Yellow Submarine, tentang pelaut yang menceritakan kisah hidupnya. Bayangkan dari semua lagu yang populer dari The Beatles, Eyang ingatnya yang Yellow Submarine ini. Gaul kan bapak kos-ku ini. hehee..)

Hari ini saya dan Eyang banyak ngobrol tentang linguistik, bahasa inggris, budaya Jawa, sampai urusan cinta. Eyang bilang saya tampaknya sangat senang tinggal di Yogya. Beliau juga bilang saya cocok jadi penyair. Saya anggap itu doa. Doa dari seorang professor Linguistik yang rendah hati meskipun beliau terkenal sampai ke mancanegara.


Kalau penasaran dengan lagu Yellow Submarine, ini lagunya. Beneran membawa ke suasana Amerika akhir tahun 60-awal 70-an