Seminar Proposal : One Step Closer

Kamis, Januari 03, 2013

Tanggal 2 Januari 2013 adalah salah satu hari yang bersejarah selama saya kuliah di Unhas. Pada hari itu saya melaksanakan ujian seminar proposal skripsi. Perjuangan untuk mengurus segala berkas mulai dari masa pengajuan judul, bimbingan skripsi, sampai menunggu tanggal ujian benar-benar sudah terbayar lunas. Bersama Kak Henny, senior saya, kami berdua melangkah bersama. One step closer menuju titel S.sos yang didamba. 

Sejak masih maba saya memang tertarik dengan feminisme. Maka, apa yang akan saya teliti tidak jauh-jauh dari perempuan dan sastra (karena saya suka menulis tentu saja). Sebenarnya saya ingin meneliti tentang serial Sex and The City dan nilai feminitas di dalamnya, namun ternyata semesta menentukan sesuatu yang lain. Saya masih ingat malam itu, saya dalam keadaan galau karena broken heart, memutuskan  menonton ulang salah satu session dari Sex and The City sebagai salah satu panduan hidup saya selain kitab suci.

Di salah satu scene-nya, terdapat adegan antara Charlotte, Miranda, dan Carrie yang sedang bercakap-cakap tentang ksatria berkuda putih yang akan menyelematkan mereka dari misery. Lalu, Carrie tertarik membuat kolom mengenai itu. Dan seperti ada yang memberi tanda, di adegan ketika Carrie sedang mengetik ia mengatakan sesuatu, "Mengapa Putri Salju harus menunggu Pangerannya? Tidak bisahkah ia mengeluarkan potongan apel itu dari tenggorokannya dan pergi ke bank sperma lalu hidup sebagai single parent? Apakah benar bahwa di dalam diri perempuan yang kuat terdapat seorang putri yang menunggu untuk diselamatkan? Apakah perempuan memang butuh untuk diselamatkan? Apakah ksatria berkuda putih itu memang ada?

Saya tersentak. Ini dia! Feminisme, komunikasi, dan sastra berbaur jadi satu. Dongeng yang merupakan produk budaya memiliki nilai-nilai yang dapat menentukan peran dalam masyarakat apalagi sifatnya memang untuk mendidik sekaligus menghibur. Dongeng secara tak kasat mata dapat menjadi perpanjangan relasi kuasa. Kalau meminjam opininya Foucault, pengetahuan dan kekuasaan itu berkaitan erat. Kekuasaan itu tidak dilakukan dengan cara represif tetapi diproduksi terus-menerus hingga pada akhirnya diterima sebagai kewajaran. Ini menjelaskan mengapa umumnya Perempuan menanti "salvation" dari Laki-Laki. Kita bisa melihat bahwa dongeng yang merupakan bagian dari cerita rakyat terus-menerus diturunkan selama beberapa generasi dan bila masyarakat itu berubah, isi dongeng pun bisa berubah. Contohnya 2 film terakhir Putri Salju yang dibintangi Kristen Stewart dan Julia Roberts mengalami perubahan cerita yang drastis. 

Saya pun menggunakan analisis wacana (discourse analysis) Sara Mills yang memang memandang adanya teks bias terhadap perempuan (perspektif feminisme). Dengan dibimbing oleh Pak Iqbal dan Pak Mul, penelitian ini menjadi semakin seru setiap hari. Ada 2 teks yang saya teliti untuk dibandingkan (intertekstual) : Putri Salju versi Grimm Bersaudara, yang terbagi 2: yang satu terjemahan bahasa Indonesia yang satunya terjemahan bahasa Inggris yang diceritakan kembali oleh seorang story teller asal India yang tinggal di Inggris, Rohini Chowdhury. Teks dongeng kedua yaitu versi Putri Salju yang diadaptasi oleh Disney. Jadi total ada 3 teks yang saya teliti. Saya juga berhasil menjadikan Rohini Chowdhury sebagai informan saya, caranya? It's universe blessings. 

Saya benar-benar menikmati masa-masa yang saya sebut "mengurus masa depan" ini. Seperti mendapat restu dari semesta, semuanya berjalan lancar bahkan sampai ujian tadi. Saya dapat melakukan presentasi dengan baik dan menjawab semua pertanyaan dengan baik. Sempat terharu juga sewaktu selesai ujian, dan banyak orang memberikan ucapan selamat. 

Saya belajar satu hal dalam masa-masa itu, kita tidak bisa mendahului rencana Tuhan. Kita pun tidak bisa memakai sekoci penyelamat bila kapal induk masih baik-baik saja. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu dan biarkan Tuhan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya. Everything will be al right in the end, if it's not al right then it's not yet the end.

Terima kasih saya haturkan untuk penyertaan Tuhan Yesus dalam segala kasih karunia-Nya.
Kak Henny, sebagai partner seminar yang menyenangkan.
Untuk Dosen Penguji : Pak Iqbal, Pak Muliadi, Pak Mursalim, Ibu Tuti, dan Ibu Murni, terima kasih atas segala masukan dan saran-sarannya.
Teman-teman CURE 09 yang sudah datang menyemangati tadi : Alvidha, Titah, Sari, Ratna, Uni, Putra, Atto, Gina, Amel, dan Bapa. Ditambah Kak Omi, Kak Idel, Kak Dodi, dan Kak Acho.
Semua orang yang mendoakan dan mendukung saya lewat sms, twitter, dan bbm.....Tuhan membalas kebaikan kalian.
Terakhir untuk Mami dan Daddy, sebagai penyandang dana. I Love you, guys

Enjoy some photo shoot:




bersama teman angkatan dan Ibu Murni setelah selesai ujian




Perjalanan belum berakhir,
perjuangan ini baru saja dimulai :)

You Might Also Like

4 comments

  1. jadi ingat waktu saya ujian proposal. saya ngapain dulu y...ahahahahaha

    BalasHapus
  2. Jay : terima kasih sayang....:)

    Kak Dwi : hihii...saya malah penasaran Ksatria Bintang sedang merasakan apa saat menungu Peri Biru ujian :p

    BalasHapus
  3. Congrats kaaaak:) mungkin dalam waktu 3 setengah tahun kedepan (insyaAllah) sy akan menghadapi hal seperti ini, penasaran:')

    BalasHapus