Dari Bertemu Menteri Hingga Calon Suami

Selasa, November 20, 2012

Kalian tahu, semesta selalu punya cara untuk memberi kita kejutan. Namanya juga kejutan, kita tidak bisa memprediksi kedatangannya. Kadang kejutan itu diawali dengan segala sesuatu yang tidak berjalan seperti direncanakan atau selayaknya bonus untuk sesuatu yang tidak kita sangka. Waktu menjadi misteri yang terasa mustahil untuk dipecahkan apabila kita benar-benar ingin memprediksinya.

Hari ini semesta mengejutkan saya dengan bingkisan yang tak terduga. Siang ini sebenarnya saya punya rencana untuk melakukan konsultasi bimbingan skripsi. Maka sampailah saya ke ruangan pembimbing saya di rektorat. Kebetulan pembimbing akademik yang merangkap pembimbing skripsi saya ini sekarang menjabat sebagai Humas Unhas. Rupa-rupanya kedatangan saya bukan disaat yang tepat. Unhas hari ini kedatangan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Linda Amaliasari Gumelar. Otomatis dari Rektor sampai staff rektorat sibuk mempersiapkan kedatangan Ibu Menteri, termasuk pembimbing saya. Karena kesibukan itulah konsultasi skripsi saya sedikit terhalang dan mengantarkan saya untuk ikut kuliah umum-nya Ibu Linda di rektorat atas rujukan dari pembimbing saya.

Kuliah umum itu bertema Peranan Perempuan dalam Pembangunan Nasional yang langsung dibawakan oleh Ibu Linda. Semua orang yang mengenal saya pasti tahu kalau saya sangat concern terhadap masalah perempuan. Diam-diam saya sering berkhayal seandainya kelak menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan di Indonesia. Saya masih ingat impian itu terlintas sewaktu Khofifah Indar Parawansa yang menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Disamping itu, saya juga ingin bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan, alasannya simpel karena saya mendukung perjuangannya untuk memajukan Perempuan Indonesia.

Hari ini dengan segala peristiwa yang berjalan tidak semestinya saya malah bisa bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang sekarang dijabat Ibu Linda yang juga istri dari Bapak Agum Gumelar, mantan Menteri Perhubungan dan tokoh militer dan politik di Indonesia. Semuanya berjalan seperti air, saya tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Ibu Linda. Tadinya saya cuma berdiri bengong menunggu Kak Jejen--senior saya--- yang sedang memotret Ibu Linda seusai acara kuliah umum. Ketika Ibu Linda hanya berjarak 2 langkah, tak terasa tangan saya sudah maju untuk berjabat tangan dengannya. Kami malah sempat melakukan percakapan kecil. Meski terkesan tergesa-gesa karena serbuan orang-orang yang ingin berfoto dengan Ibu Linda, saya akhirnya mendapatkan moment ini.

Ibu Linda : Halo...kamu dari fakultas apa?
Meike : Saya dari Komunikasi, Bu.
Ibu Linda : Wow..sama dong. Ibu juga dari Komunikasi. Ayo-ayo kita foto.

(berfoto dengan Ibu Linda)

Meike : Ibu, Oma saya juga anggota PERIB (Persatuan Istri-Istri  Purnawirawan ABRI, organisasi ini pernah diketuai Ibu Linda)

Ibu Linda : Oya....wah berarti kita sama-sama FKPPI dong ---(FKPPI - Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI)----di moment ini beliau excited banget.

Meike : Iya Bu ( ikutan excited)

Lalu sambil berjalan ke luar ruangan, Ibu Linda juga mengajak saya dan Kak Jejen untuk bercerita

Ibu Linda : Semoga kalian nanti bisa menjadi pemimpin negara ya...
Meike dan Kak Jejen : Aminnnn Bu.....
Ibu Linda : abis kuliah langsung lanjut lagi sekolahnya ya...lanjut S2 sampai S3.
Meike : Iya Bu...Setuju...Perempuan Indonesia harus maju
Ibu Linda : Iya..Maju Perempuan Indonesia.


Ibu Linda dan saya --Menteri Sekarang dan Menteri Masa Depan--- (thanks Kak Jejen untuk fotonya :*)


Ibu Linda mungkin tidak mengenal saya dan saya juga tidak mengenal akrab pribadi beliau. Namun yang pasti beliau adalah orang yang down to earth. Mungkin karena dia sudah terbiasa menghadapi banyak orang dan sebagai anak komunikasi juga sehingga pembawaannya yang supel dapat membuat kami-kami yang rakyat jelata ini jadi nyaman dengan beliau.

Setelah bertemu Menteri, semesta memberi kejutan dalam bentuk sesosok pria gagah bertubuh tinggi tegap yang menjadi staff dari Ibu Linda. Saya awalnya tidak menyadari keberadaanya padahal kami sudah berjumpa sejak menunggu Ibu Linda di lantai 8 rektorat. Lama-kelamaan ketika kami semua sudah berada dalam aula seminar, saya baru menyadari bahwa lelaki ini...sangat menawan.

Yeah, I got crush with someone without knowing his name. Entahlah, lelaki ini mengganggu hati saya sejenak. Dia seperti sosok suami idaman saya. Sempat terbesit niat untuk mengajaknya kenalan tapi sayangnya seluruh saraf-saraf saya seperti membeku. Ketika akhirnya acara ini selesai dan dia pun berlalu, saya kembali merenungkan pertanyaan klasik," kapan kita dapat bertemu kembali?"

Sore itu dibawah langit mendung kota Makassar, semesta mengirimkan saya sebuah pesan. Pesan yang membuat pipi saya bersemu merah muda: Di dunia ini, dimanapun itu, keajaiban selalu terjadi. Dia benar-benar ada. 



You Might Also Like

0 comments