Tentang Natal dan Tahun Baru-ku

Selasa, Januari 04, 2011


A very merry Christmas
And a happy New Year
Let's hope it's a good one
Without any fear
( Happy Christmas - John Lennon & Yoko Ono )



Sebenarnya tulisan ini ingin di-post bertepatan dengan hari Natal dan Tahun Baru, tapi karena saya tidak membawa laptop saat ke Ambon dan kesulitan sinyal maka tulisan ini baru bisa saya post sekarang.

Yup. Momen Natal dan Tahun Baru memang selalu dinanti oleh orang-orang yang merayakannya. Dari dulu, keluarga saya sudah punya tradisi yang selalu dijalankan dari tahun ke tahun. Bukan seperti di film-film atau cerita para selebritis dengan tukaran kado dan sebagainya. Kami terbiasa merayakan Natal dan Tahun Baru dengan khidmat dan sangat kekeluargaan. Setiap malam natal kami akan ke Gereja. Setelah itu tepat pukul 12 malam, kami sekeluarga akan berdoa. Setelah itu saya akan tidur sementara Mami dan Oma akan menyediakan hidangan untuk hari Natal besok. Tanggal 25 Desember kami ke Gereja lagi dan open house. Kami yang menerima tamu atau kadang mendatangi rumah saudara-saudara, keluarga, dan kerabat. Sama hal-nya ketika merayakan Tahun Baru. Di malam tahun baru, kami akan ke Gereja. Tepat jam 12 malam, kami sekeluarga akan berdoa. Keesokan harinya ke Gereja lagi untuk ibadah awal tahun dan open house. Itulah kebiasaan di keluarga saya yang jauh dari hiruk pikuk. Intinya Natal dan Tahun Baru adalah momen untuk keluarga yang bersifat religius.

Pemasangan pohon Natal pun tak pernah absen kecuali jika saya dan Mami tidak ada di rumah. Mami yang biasanya mendekor pohon Natal-nya. Pohon Natal itu akan dilepas setelah Tahun Baru lewat. Biasanya di pertengahan atau akhir bulan Januari. Rekor paling lama, pohon Natal itu baru dicabut ketika pas hari Valentine.




Natal dan Tahun Baru juga menjadi hari-hari khusus dalam pelayanan. Sejak kecil, saya aktif di Gereja dan tidak pernah absen dalam mengisi kegiatan saat Natal. Entah dengan menyanyi di Paduan Suara, menari sebagai body worship, atau memainkan lakon dalam drama-drama Natal ( I'm a good actress ). Semuanya itu saya nikmati dengan hati sukacita walaupun dalam satu hari bisa 2 kali saya masuk Gereja ( ada 4 kali waktu untuk masuk gereja : jam 6 pagi, jam 9 pagi, jam 4.30 sore, dan jam 7 malam ).

Natal tahun 2010 hampir sama dengan ketika saya merayakan Natal di tahun 2008. Ambon dipilih sebagai tempat untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Keluarga besar saya ada disana dan sudah menjadi tradisi orang Ambon kalau anak-cucunya jauh di perantauan harus dibawa untuk menginjakkan kaki ke Ambon dan ke kampung halaman. Setelah itu, baru mereka bisa pergi kemana-mana.



Suasana Natal di Ambon berbeda dengan di Makassar. Di Ambon sangat ramai dan semarak. Kembang api dan petasan berlomba-lomba terbang ke angkasa. Setelah gereja malam natal dan berdoa tepat pukul 12 malam, kami akan turun ke kota dan menyaksikan pawai yang dilakukan oleh masyarakat kota Ambon. Kejadiannya sama dengan Tahun Baru. Tradisi-nya sama saja.



Tahun ini, saya merayakan Natal di Ambon dan di Saparua. Natal hari pertama ( 25 Desember ) saya rayakan di Ambon dan Natal hari kedua ( 26 Desember ) saya rayakan di kampung halaman nenek moyang saya di Itawaka, Saparua. Di Itawaka, saya bersama keluarga besar saya. Kami berkumpul untuk merayakan ulang tahun tante yang saya panggil Mami Dei dan ibadah syukur rehabilitasi rumah tua-nya Oma Au ( mamanya Mami Dei ). Bertemu dengan tante-tante dan om-om serta saudara sepupu-sepupu saya yang sangat banyak membuat saya kadang-kadang disorientasi. Saya tidak pernah berada dalam situasi di tengah keramaian seperti itu karena biasanya di Makassar kami hanya bertiga ( berempat jika Oma datang ke Makassar ). Jadi saya kadang-kadang kikuk. Tapi, sebagai anak komunikasi saya harus pandai membawa diri dan untungnya suasana mencair. Saya bisa bergaul dengan saudara-saudara yang lain.








Setelah mengikuti perayaan Natal sedunia di Itawaka kami lalu pulang dengan nebeng Kapal Siwa Lima yang dinaiki Gubernur Maluku. Loh kenapa bisa ? Sebabnya off the record ya, nanti kalau dituliskan disini dibilang sombong lagi ( hehehe ^.^).
Padahal saya paling anti naik tranportasi laut ( kecuali terpaksa ). Saya takut kapalnya kenapa-napa dan saya tidak bisa berenang, tidak lucu kan kalau-kalau dan....

Tahun Baru 2011 saya rayakan di Ambon. Saya, Mami, dan sepupu saya Kak Sonny dan Filicia memilih kebaktian di Gereja Pusat GPM Maranatha. Kami harus cepat-cepat datang ke Gereja karena banyak sekali orang yang akan Gereja disini. Saya belum pernah masuk gereja dengan cara antri seperti mau nonton bioskop. Salah satu pengalaman yang unik. Di gereja saya duduk terpisah dengan Mami, Kak Sonny, dan Filicia saking banyaknya orang. Filicia bernyanyi di paduan suara "Halleuyah" yang melayani di Gereja ini. Salah satu juga alasan mengapa kami Gereja di Maranatha.



Tanpa diduga saya duduk di deretan kursi Gubernur. Dalam dua hari terakhir itu saya ketemu terus dengan Gubernur ( bayangkan jika kamu bertemu Syahrul Yasin Limpo terus-menerus dalam radius dekat ). Mungkin ini pertanda, bahwa suatu saat saya akan menjadi Gubernur atau jadi istri Gubernur. Mungkin menikah dengan anak Gubernur..hehehe...*( Aminnn...). Di ibadah ini, saya juga ketemu dengan juara Indonesia Idol, Igo. Igo ternyata adalah teman sekolahnya Filicia dan bersalam-salaman-lah kami sambil cium pipi kanan dan kiri. Setelah itu foto bareng. Bukan saya ya yang mau foto bareng tapi Igo yang samperin. Kayaknya dia nge-fans sama saya. hehehe...

Setelah pulang ibadah dari Gereja, kami pulang ke rumah untuk persiapan ibadah konci taon ( ibadah malam tahun baru keluarga ). Jam 12 teng kami mulai ibadah dan setelah itu kumpul-kumpul dengan keluarga besar yang lain. Saya, Filicia, dan Sara memilih nonton dvd serial korea "Playfull Kiss" setelah ibadah konci taon. Film yang tak henti-hentinya kami tertawai. Padahal sebenarnya jika dalam kondisi wajar kami mungkin bisa menangis. Kami baru tidur pukul 3 dini hari. Kami harus istirahat karena besok tanggal 1 Januari kami akan ibadah awal tahun dan ibadah perjamuan kudus. Walaupun sukacita melingkupi keluarga kami tapi dukacita juga ikut menghampiri sehingga kami tidak memiliki persediaan untuk menjamunya. Berita duka datang pagi itu di tanggal 2 Januari. Om Olop, salah satu Om saya dipanggil Tuhan. Beliau memang sakit parah dan sempat koma. Ketika malam natal kami sempat membesuknya di rumah sakit. Tapi kami tak mengira beliau akan pergi secepat ini. Tuhan memang memiliki rencana-Nya sendiri.


Karena tiket tak bisa ditukar, akhirnya saya dan Mami tetap harus pulang. Kami tiba di Makassar dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.

Saya pun kembali menghadapi realita yang sepekan lebih saya tinggalkan. Kembali menjalankan tugas dan aktivitas sambil menunggu kejutan dari Yang Di Atas. 2011 harus lebih baik dibanding 2010. Revolusi bukan cuma Resolusi.


Selamat Hari Natal dan Tahun Baru. Immanuel ( Allah Beserta Kita )!!! ^^

You Might Also Like

0 comments