Tambah Hitam Ya ?

Sabtu, Januari 08, 2011

Setelah pulang mudik hampir seminggu lebih, saya akhirnya kembali ke haribaan. Saat masuk kampus kemarin, tidak ada yang berbeda. Unhas tetap seperti itu, hanya jauh lebih sepi dan banyak cerita dramatis yang mengelilinginya. Respon teman-teman saya juga standar " Kapan pulang?" atau " Mana oleh-olehnya". Yang berbeda beberapa sobat karib saya seperti Tirta, Alvidha, Mymy, dan Indri berkomentar seperti ini " Kenapa ko tambah hitam ?"

Yeah. Sengaja memang menghitamkan diri selama di kampung halaman sebagai tanda saya akrab dengan tanah nenek moyang. Perlu diketahui juga bahwa kampung halaman saya itu dikelilingi lautan, namanya juga pulau jeng. Walau dikelilingi lautan dan batas rumah keluarga saya cuma tinggal melangkah beberapa meter dari laut, tapi ternyata saya harus juga akrab dengan yang namanya perbukitan. Maka, selain hobi berjemur saya juga pandai mendaki bukit-bukit yang belum tersentuh. Di belakang rumah Oma saja itu malah dapat hutan tropis. Dengan modal sendal jepit joger yang keren abis, saya mendaki bukit dan setelah itu jalan di batu-batu karang untuk menuju tanjung Namal. Ada cara lain juga bisa lewat air. Tapi saya tidak sudi. Saya tidak percaya dengan laut di Maluku. Air tenang jangan disangka tak berbuaya, peribahasa ini cocok melukiskan laut-laut di Maluku. Pernah belajar Geografi kan, Laut Banda adalah salah satu laut terdalam di dunia dan Laut Banda ada di mana? Iya, Laut Banda ada di Maluku. Jadi, mending hati-hati dan jangan sembarangan mandi-mandi di daerah Maluku.

Berikut petualangan saya...

Ziarah ke makam Opa saya di Itawaka



Tanjung Namal di Itawaka



Batu Anyo-Anyo di Itawaka




Inilah Tanjung Ouw di Desa Ouw. Ada lagu rakyat Maluku yang liriknya " Ouw Ulatheee...Tanjung Ouw Ulathee...."






Di desa Ouw



Mengunjungi Benteng Duurstede di Saparua

You Might Also Like

0 comments