Cita-Cita : Jadi Mahasiswa Yang Ikut Demo di Masa Reformasi 1998

Rabu, Desember 08, 2010

Saya masih merangkak di kelas terbawah dalam ranah pendidikan dasar ketika melihat chaos di zaman itu. Ada rasa takut sekaligus bangga ketika mengalaminya. Saya beruntung dapat menyaksikan dan menjadi saksi dalam pergantian kekuasaan yang bertahan hingga 32 tahun. Orde Baru telah berganti menjadi Reformasi. Dan sejak saat itu pula, kebebasan mulai diagung-agungkan.

Saya tidak pernah lupa gerilya yang dilakukan para mahasiswa itu. Semua mahasiswa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta tumpah ke jalan meneriakkan kata Reformasi. Seperti perang yang terjadi, apalagi jika melihat betapa gagahnya mereka mengenakan baju almamater layaknya prajurit yang mengenakan baju zirah. Wahai kakak-kakak, kami sangat bangga melihatmu di kala itu. Saya bahkan menangis ketika membaca 5 cm di bagian Genta dkk mengingat masa-masa ketika mereka menjadi mahasiswa yang berdemonstrasi di Gedung DPR, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan memakan makanan yang dibawakan oleh ibu-ibu yang bersimpati pada mereka.

Bukan pemandangan asing jika melihat ban dibakar di jalan-jalan atau konvoi mahasiswa dengan warna almamater mereka. Saya punya kakak sepupu bahkan Om yang hidup menjadi mahasiswa di era itu. Berhubung saya kadang di titip di rumahnya sambil menunggu dijemput Mami yang pulang dinas, saya sering mendengar ia bercerita mengenai saat-saat paling heroik dalam hidupnya. Bahkan di pintu kamarnya masih ada stiker bertuliskan AMARAH ( April Makassar Berdarah ) sebagai simbolik ia pernah terlibat dalam pergerakan itu. Mami juga memiliki pengalaman yang serupa, ia sering digedor mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menyuarakan aspirasinya lewat radio. Mami memang yang lebih sering turun tangan menjadi mediator antara mahasiswa dengan pihak RRI kala itu. Entah mengapa, mahasiswa-mahasiswa itu sering datang bertepatan dengan jam dinas Mami. Saya sendiri dengan blazer punya Mami, sering berteriak-teriak di dalam kamar menirukan mahasiswa yang berorasi. Cita-cita saya ingin jadi mahasiswa Unhas yang ikut demo. Kenapa Unhas ? Waktu itu saya tidak tahu kalau Unhas adalah perguruan tinggi negeri yang terbaik dan disegani di Indonesia Timur. Saya memilih Unhas karena warna almamaternya yang merah. Kini, almamater itu ada dalam lemari pakaian saya. Menunggu untuk digunakan dengan pantas.

( Ah, iya...saya pernah mengenakannya empat kali : )

1. Ketika menjadi notulen saat Mubes KOSMIK




2. ketika masuk TVRI dalam debat antar Mahasiswa



3. Yang paling spektakuler waktu diinagurasi menyelesaikan sosialisasi almamater alias menjadi anak KOSMIK sejati pas Nurani.



4. Yang paling norak. Mahasiswa baru yang baru pertama kali memakai almamater




Lalu dimana cita-cita itu sekarang?

Ini bukan cita-cita lagi sekarang. Melihat diri saya dulu di kala kanak-kanak bagaikan melihat ABG labil yang tergila-gila dengan Justin Bieber. Mahasiswa yang berdemonstrasi di era Reformasi itu tak ubahnya Justin Bieber di masa saya. Kami anak-anak kecil ini seperti bertemu sosok-sosok idola bahkan pahlawan jika melihat mereka di TV atau di jalan. Ketika waktu saya-lah yang mengenakan almamater itu dan melanjutkan perjuangan para mahasiswa Reformasi, saya malah lebih suka menyimpannya. Dipakai bergaya buat foto profil di jejaring sosial. Tragis.

Dimana saya ketika aksi anti hari korupsi setahun lalu? Walaupun berakhir huru-hara tapi alasan utama saya tidak terjun aksi karena belum dapat almamater. Konyol. Di mana saya ketika demo di pengadilan, penggusuran, atau menolak perombakan Benteng Somba Opu ? Padahal almamater sudah di tangan.

Hahaha...Saya lebih memedulikan final test dan kuliah dibanding menjalankan tugas sebagai agen sosial produksi rakyat yang berjuang atas nama rakyat. Para mahasiswa kritis itu mencemooh saya. Mereka bilang saya tidak jelas dalam menentukan keberpihakan saya. Mereka bilang saya tidak memiliki pengalaman di lapangan. Baiklah kawan, sekali lagi Almamater merah itu masih rapi di lemari pakaian saya.

SAYA MALU.

You Might Also Like

0 comments