Sex and The City : are We..???

Selasa, April 27, 2010



" Cause' Man doesn't like woman to be human..." (Samantha Jones)

Saya masih terlalu dini dan lugu ketika pertama kali menonton serial ini saat masih duduk di kelas 5 atau 6 SD. Pada saat itu acara serial ini ditayangkan tengah malam oleh salah satu televisi swasta dan saya yang selalu kumat insomnia setiap liburan sering menontonnya. Jujur saja, saya tidak mengerti apa pesan yang ingin disampaikan serial ini.

Beberapa tahun kemudian, katakanlah saat ini, Tirta best friend saya menyarankan untuk menonton kembali serial ini. Pada saat itu kami tengah dilanda efek cinta yang dangkal dan sepertinya butuh "aspirin" untuk bisa menghilangkan kegundahan kami dan mencari pembenaran bahwa apa yang kami alami, terjadi jugakah dengan perempuan lain?

Serial ini mengangkat Carrie Bradshaw sebagai tokoh sentrum. Ia seorang penulis. Carrie memiliki kolom "Sex and The City" yang dimuat di koran harian di kota New York. Kisah Carrie dan ketiga sahabatnya : Samantha Jones, seorang PR yang selalu terlibat hubungan dengan banyak pria. Miranda Hobbes, seorang lawyer yang selalu memiliki pandangan sinis tentang cinta. Dan, Charlotte York, seorang dealer pada sebuah galeri seni yang selalu berpikir konservatif dan optimis terhadap cinta. Keempat perempuan ini mewakili refleksi wanita masa kini yang cantik, cerdas, sukses, fashionista, dan ....lajang.

Keempat wanita ini selalu melakukan 'ritual sarapan bersama" dan membahas masalah-masalah yang mereka hadapi. Tentu saja itu berhubungan dengan cinta dan semua aspek psikologis mengenai hubungan pria-wanita yang sering terjadi. Dari sanalah menjadi bagian dari inti cerita serial ini.

Percaya atau tidak, saya seperti mendapatkan pencerahan setelah menonton serial ini. Pikiran saya terbuka dan berpikir "This is what happen". Bukan cuma saya saja yang mengalaminya. Penulisan skenario serial ini bukan dengan proses main-main. Tapi ada campur tangan 2 scriptwritter pria dan wanita (saya lupa siapa namanya) yang mewakili dua persepsi yang berbeda. Selain itu, serial ini memiliki konsultan (si Greg tentu saja...) untuk membantu scriptwriter dalam menulis cerita ini yang tentunya berdasarkan pengalaman nyata perempuan-perempuan di kota New York (bahkan di seluruh dunia).

Samantha Jones
Saya menemukan tokoh ini dalam sosok Tirta Arum Bhakti Tanes. Tirta sendiri mengakui kalau ia memang seperti Samantha. "Barusan ada tokoh dalam cerita yang merefleksikan diriku,"begitu katanya. Sosok perempuan liberal, bermental baja, dan sahabat yang paling pengertian ada dalam diri Samantha. Dia tidak peduli pendapat orang tentang dirinya selama yang ia lakukan ia anggap benar. Dan satu lagi, dia sosok perempuan tegar yang selalu bisa bersikap elegan dalam keadaan apapun. Kelemahannya, dengan heteroseksual yang tinggi, sudah pasti ia selalu terlibat hubungan dengan banyak pria. Sayangnya, belum ada yang beres dalam hubungan itu walau sebenarnya ada satu pria yang benar-benar dia cintai.




Charlotte York
Tokoh wanita anggun ini saya temukan dalam diri Maria Yessica Halik. Sama seperti Charlotte yang mantan ketua Kappa Kappa Gamma, Maria juga mantan ketua OSIS. Selalu berpikiran konservatif, optimis walau kadang-kadang tidak realistis. Charlotte-lah dari mereka berempat yang pertama kali menikah. Seperti Maria yang juga pertama kali ber-in a relationship- dengan seseorang saat kuliah dari kami bertiga. Seringkali Maria memang panik tidak jelas seperti Charlotte, tapi dalam urusan atur-mengatur, seperti Charlotte, tidak ada yang dapat meragukan itu. Charlotte juga selalu memimpikan kehidupan cinta seperti fairy tale yang tak ubahnya seperti Maria inginkan. Masalah pasangan? Seperti Charlotte, "He's not my type but I love him..."




Carrie Bradshaw dan Miranda Hobbes
Egois sekali mengambil kedua tokoh ini dan mengesahkannya sebagai refleksi seorang Meike Lusye Karolus. Baiklah, akan saya terangkan mengapa ini bisa terjadi. Sama seperti Carrie, Meike juga bergelut di dunia jurnalistik. Ia tipe perempuan cerdas, cantik (semua orang bilang begitu kecuali cowok-cowok labil itu...!!!), lucu, suka bergaya, dan easy going. Ia adalah tipe sahabat sejati yang selalu ada setiap dibutuhkan. Kadang-kadang bersikap impulsif seperti Carrie dan yang terpenting ia selalu jatuh cinta yang dalam dengan seorang pria yang membuatnya melambung dan menghempaskannya ke bumi di saat yang sama. Itulah saya dalam wujud Carrie. Miranda dan saya juga tak ubahnya seperti kembar siam. Walaupun kisah cinta saya lebih mirip Carrie. Dalam lingkup personal, saya lebih mirip Miranda. Tirta bilang "Kau suka desperate nda jelas kayak Miranda...!!". Yahh, Miranda adalah tipe wanita tegas dan keras dengan tingkat emosional rada-rada tinggi serta cenderung agak sarkastis. Ia sosok wanita karir yang selalu memiliki idealisme tinggi dengan apapun yang dilakukannya. Sama seperti Miranda, saya selalu bersikap tegar walaupun di dalamnya rapuh. Dan yang sekarang sedang saya alami, seperti Miranda lagi, saya mulai punya pandangan sinis mengenai cinta. Tidak ada lagi keindahan selain kepedihan yang ada. Hanya ada kesepakatan dan itu nyata.





is it true? Man fallin in love with a woman because our inner beauty? or is it act...?

You Might Also Like

0 comments