Arkeologi VS Komunikasi...

Kamis, April 29, 2010


Biodata Peserta :

Nama : Meike Lusye Karolus
Nama Panggilan : Meike
Tempat/tanggal lahir : Ujung Pandang, 9 Mei 1991
Alamat : Jl. Toddopuli VI. Komp. Puri taman Sari B6/1 Makassar
Cita-Cita : Arkeolog, Psikolog, dan Wartawan
Motto : Vini Vidi Vici

(Biodata waktu ikut Pembinaan Anak-Anak Teruna di BLKI)

Lagi-lagi ketika saya masih SD pikiran saya sudah jauh melangkah. Saya nonton Sex and The City ketika SD, membaca Kawanku, Gadis, Cita Cinta, Cosmopolitan, Bobo, dan Ina juga ketika masih SD. Cita-cita saya pun mulai kutentukan ketika SD. Sepertinya saya ini cepat dewasa ketika SD ya...?? Hehehe...

Mungkin sekitar kelas 4 atau 5 SD, saya menonton sebuah film. Film ini saya nonton puluhan kali. Pertama di bioskop selanjutnya di VCD. Judulnya The Mummy Returns, yang merupakan sekuel dari film The Mummy. Kali berikutnya saya yang notabene baru tahu kalau itu film sekuel langsung mencari The Mummy dan menontonnya berulang-ulang. Saya bahkan hapal dialognya (tapi sekarang sudah lupa). Saya suka film ini lalu film berikutnya, The Scorpions. Lalu ada pula film tentang profesi Arkeolog yang dibintangi Michelle Yeoh dan beberapa film-film yang saya nonton ketika masih kecil, termasuk juga serial Indiana Jones dan Tomb Raider.

Yah, sejak saat itu saya mau jadi Arkeolog. Entah mengapa saya suka dengan Sejarah. Saya suka belajar sejarah. Saya suka ke tempat-tempat bersejarah dan saya ingin menjadi orang yang bersejarah. hahaha....

Saya selalu memimpikan mempunyai rumah model Eropa yang seperti model rumah-rumah zaman Belanda itu. Saya suka tidur pakai kelambu biar terlihar klasik walau sejujurnya saya takut, saya suka dengar lagu-lagu lama, saya suka nonton film lama, dan saya suka cowok-cowok lama...uupss!!! maksud saya yang lebih tua dari saya.

Dan saya tetap ingin menajdi ARKEOLOG, ya ARKEOLOG...
Sampai saya duduk di kelas 3 SMP, cita-cita itu luntur digantikan sebuah kalimat baru. Saya mau jadi JURNALIS.

Dulu ketika masih SD (lagi-lagi ketika masih SD), saya suka berlangganan beberapa majalah. Waktu saya duduk di TK, bacaan saya adalah TIKO. Ketika heboh film Titanic di dunia, saya juga ikutan heboh untuk mencari semua berita mengenai Titanic. Suatu ketika, Mami saya yang saat itu baru pulang dari dinas malam datang membawa sebuah majalah Kawanku dengan informasi lengkap mengenai Titanic dan profil pemeran utamanya, Leonardo DiCaprio. Saya pun terus berlangganan sampai kelas 3 SD. Lanjut kemudian mengkonsumsi majalah Bobo dan Ina. Nah, dari sanalah semua mengalir. Saya suka membaca artikel-artikelnya termasuk Cerpen. Dan ketika habis membaca satu edisi majalah Bobo, saya merebahkan diri di atas tempat tidur, dan mulai mengarang cerita dengan kata-kata saya sendiri tanpa menyalinnya dalam sebuah kertas. Sejak saat itu saya tahu kalau saya suka mengarang cerita.

Usia saya semakin beranjak remaja. Berhenti berlangganan Bobo dan Ina, saya pun haus akan bacaan. Mami saya membolehkan saya berlangganan majalah Gadis, alasannya majalah inilah yang dulu dibaca Mami waktu masih jadi ABG Labil. hahahaha...

Kehausan saya akan bacaan terus berlanjut. Selain membaca majalah Gadis, saya pun tergoda membaca bacaan Mami saya. Karena Mami saya dulu pernah menggarap program radio dialog interaktif, beliau banyak membutuhkan referensi. Dulu kami belum punya internet, dan sepertinya juga masih jarang digunakan. Jadi beberapa jenis majalah sering dibeli Mami dan dibaca juga oleh saya. Maka sejak SD, kalau tidak salah kelas 4 sampai 6 SD, saya sudah membaca majalah Femina, Tabloid Wanita Indonesia, Tabloid Aura, Majalah Kartini, Tabloid Cita Cinta (waktu itu masih Tabloid), dan yang paling fenomenal Majalah Cosmopolitan. Saking ngebet-nya saya pada bacaan majalah-majalah ini, saya dan Mami sering bertengkar untuk pertama kali membacanya. Selain majalah dan tabloid, saya juga suka membaca buku. Mulai dari komik, novel, sampai biografi tokoh-tokoh ternama. Hobi yang sampai sekarang saya lakukan.

Sampai kemudian, saat duduk di SMP, saya mulai menulis-nulis. karangan-karangan yang dulunya terperangkap di pikiran saja kini berjodoh dengan yang namanya komputer. Saya menulis novel pertama saya yang tidak jelas akhirnya disitu. Bisa ditebak, ketika komputer saya kena virus, maka file novel-novel itupun lenyap ditelan bumi.

Di SMP pun saya mulai terlibat untuk pertama kalinya dengan kegiatan Jurnalistik. Saya mulai mengurusi Mading hingga pembuatan Majalah Sekolah, yang hanya sekali terbit. Tapi, disitulah untuk pertama kalinya saya menulis artikel. Saya sudah menunjukkan ketertarikan yang besar dengan bidang ini. Hal inipupn berlanjut hingga saya duduk di SMA dan kemudian berpelayanan dalam Buletin Agape. Media dimana saya berpelayanan kepada Tuhan dan sesama serta belajar ber-Jurnalistik-ria. Semua kegiatan peliputan secara profesional saya pelajari dan lakukan disini. Dan semakin cintalah saya kepada Jurnalistik.

Seorang senior saya pernah bertanya begini, "Kenapa kamu mau masuk di Komunikasi?". Saya jawab, "Karena saya punya bakat menulis, Kak...,". Beliau sepertinya tidak puas dengan jawaban saya, memang kedengarannya sombong sekali, tapi dia berkata lagi, " Lho, kalau punya bakat menulis kenapa tidak masuk Sastra saja ?."
Lalu, apa jawaban saya? Saya hanya terdiam dan senyum ngeles tanpa bisa menjawab pertanyaannya.

Kemudian saya teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat akrab sebenarnya dalam hidup saya. Hey, bukankah saya besar di lingkungan Jurnalistik, Broadcasting, PR, dll??? Bukankah sejak kecil saya sudah tahu kapan saatnya diam ketika Mami saya menarik tuts monitor ketika akan mengudara. Saya besar di lingkungan Komunikasi. Saya akrab dengan segala istilah-istilah di bidang ini, walaupun tidak dimengerti artinya. Hey, rumah kedua saya adalah RRI, tempat dimana Mami saya bekerja sebagai penyiar.

Saya ingat perkataan Mami saya dulu, "Tadi Mami, habis mewawancara Dosen Komunikasi Unhas, namanya Mansyur Semma (ALm.). Beliau itu hebat sekali loh Meike. Walaupun dia buta, tapi dia sampai S3. Pintar sekali orangnya. Mami cerita sama beliau tentang minat kamu. Kamu kan suka menulis, terus kamu juga suka membaca dan banyak bertanya. Nah, Pak Mansyur Semma bilang begini sama Mami, "Kasih masuk saja anaknya di Komunikasi, ciri-ciri anak Ibu memang cocok masuk di Komunikasi." (ingatan saya agak kabur untuk mengingat ini, tapi kira-kira seperti itulah...)

Pembicaraan Mami waktu itu memang bagaikan percakapan biasa saja. Tapi, bagi saya itu adalah jawaban dari Tuhan untuk menentukan ke mana arah langkah minat dan pendidikan saya nanti. Di dunia komunikasi inilah saya menemukan dunia saya yang sebenarnya. Aman dan nyaman. Saya merasa bahagia berada disini.

You Might Also Like

0 comments